Musim Kemarau

Musim Kemarau, Sawah Kering dan Paceklik, Petani pun Jual Bongkahan Tanah

Musim Kemarau, Sawah Kering dan Paceklik, Petani pun Jual Bongkahan Tanah. Itu dialami petani Desa Cingebul Kecamatan Lumbir, Banyumas

Musim Kemarau, Sawah Kering dan Paceklik, Petani pun Jual Bongkahan Tanah
tribunjateng/khoirul muzaki
Musim Kemarau, Sawah Kering dan Paceklik, Petani pun Jual Bongkahan Tanah. Itu dialami petani Desa Cingebul Kecamatan Lumbir, Banyumas 

Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG.COM, CILACAP - Kemarau bukan hanya menyisakan duka bagi penduduk di desa rawan kekeringan. Kemarau adalah awal paceklik bagi para petani yang hanya mengandalkan hujan untuk bercocok tanam.

Sawah yang selalu tergenang air saat penghujan berubah kering kerontang. Tanah lembek berubah keras dan pecah-pecah.

Kondisi ini sinyal tanah harus diistirahatkan. Tanpa pasokan air, mustahil tanaman bisa tumbuh. Padahal, ekonomi masyarakat petani sangat bergantung dari hasil mengolah sawah.

Sawah mulai mengering Mei 2018. Saat itu, hujan sudah jarang turun.

Musim Kemarau, Sawah Kering dan Paceklik, Petani pun Jual Bongkahan Tanah
Musim Kemarau, Sawah Kering dan Paceklik, Petani pun Jual Bongkahan Tanah (tribunjateng/khoirul muzaki)

Karena minim pasokan air, tanaman padi tak bisa tumbuh baik. Hasil panen tak optimal.

Hanah, petani di Desa Cingebul Kecamatan Lumbir, Banyumas merasakan menurunnya hasil panen padi di masa tanam kedua tahun ini.

Sepetak sawah yang biasanya menghasilkan 15 karung gabah basah, kini hanya keluar lima karung.

"Sepertiga dari hasil panen normal,”katanya

Masa tanam kini berganti dengan pacellik kemarau. Jika bercocok tanam bergantung musim, kebutuhan hidup tak mengenalnya. Tungku dapur harus tetap mengepul, jika hidup mereka mau bersambung.

Demikian halnya petani di Desa Brani Kecamatan Sampang Kabupaten Cilacap yang berusaha bertahan di masa paceklik ini.

Mereka harus menunda keinginan bercocok tanam hingga musim hujan datang. Padahal kebutuhan hidup terus mengejar. Mereka tak hilang akal untuk tetap menghasilkan uang dari sawahnya.

Melalui lubang retakan tanah yang mengeras, tanah lebih mudah dicukil hingga berbentuk bongkahan. Bongkahan demi bongkahan tanah sawah itu kemudian diangkut ke bak truk untuk dijual.

Saat kemarau datang, para petani tadah hujan biasa menjual bongkahan tanah kepada pengrajin batu bata.

"Dijual ke tukang bata. Satu truk Rp 100 ribu,” kata Karman (46), petani di Desa Brani Kecamatan Sampang Kabupaten Cilacap. (*)

Penulis: khoirul muzaki
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help