FOCUS

Nrimo Ing Pandum

Namun, khususnya di negeri ini, tidak sesederhana itu pengertiannya. Ada istilah orang miskin yang bahagia. Mereka tidak pernah bertanya

Nrimo Ing Pandum
tribunjateng/bram
Sujarwo atau Pak Jarwo wartawan Tribun Jateng 

Tajuk ditulis oleh wartawan Tribun Jateng, Sujarwo

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Mampu, menurut KBBI, berarti kuasa (bisa, sanggup), berada; kaya; mempunyai harta berlebih, cukup mampu untuk menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Sedangkan miskin adalah sebaliknya, tidak berharta, serba kekurangan, berpenghasilan sangat rendah.

Namun, khususnya di negeri ini, tidak sesederhana itu pengertiannya. Ada istilah orang miskin yang bahagia. Mereka tidak pernah bertanya, miskin karena memang harus miskin ataukah dimiskinkan. Suka atau duka mereka tetap banyak tertawa dan tesenyum.

Mereka hanya berpegang pada prinsip nrimo (narima) ing pandum. Tapi bukan berarti memaknai prisnip itu sebagai pasrah. Mereka kadang tidak logis, meski hanya berpenghasilan pas-pasan, tukang becak atau tambal ban, misalnya, anak-anak mereka kuliah semua,
Nrimo ing Pandum, mengacu berbagai referensi, memiliki arti menerima dengan pemberian.

Dalam kajian yang lebih luas bisa juga berarti ikhlas atas apa yang kita terima dalam kehidupan atau “legowo” dalam menghadapi setiap lika-liku dalam hidup. Selalu bersyukur. Tidak mengharapkan apa yang bukan menjadi haknya. Ikhlas dan lapang dada sesuai kemampuan kitab sendiri.

Satu contoh kekhasan rakyat negeri ini yang berpegang teguh pada prinsip itu, seperti aksi 26 Kepala Keluarga (KK) di Desa Tegaltirto, Kecamatan Berbah, Sleman pada Selasa (25/6/2013). Di saat warga miskin berebut pengambilan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), mereka justru mengembalikan kartu miskin ke kelurahan.

"Saya sudah tidak mau disebut miskin lagi, sepertinya tidak ada satupun yang bangga disebut miskin," jelas Murdwihanto, warga Padukuhan Dawung, Tegaltirto, satu di antara warga miskin itu, seperti dikutip Tribunjogja.com.

Sebagian warga miskin di daerah lain tentu saja ada yang melakukan hal serupa. Ironisnya, sebagian warga yang masuk kategori mampu kini malah sibuk cari Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Bahkan ada yang nekat cari SKTM abal-abal. Aksi warga mampu ini tak lain agar anaknya mendapatkan sekolah yang mereka inginkan.

Proses Penerimaan Peserta Didik Baru ( PPDB) memang diwarnai kekisruhan soal penggunaan SLTM terutama di Jawa Tengah. Beberapa kasus mencuat. Di Ungaran, seorang siswa didiskualifikasi karena menggunakan SKTM yang tidak sesuai. Bahkan, di Jepara, ada siswa yang mendaftar pakai SKTM, setelah diteliti pijak sekolah, ternyata orangtua siswa itu memiliki empat mobil.

Maklum jika Gubernur Jateng Ganjar Pranowo marah. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng pun telah mencoret 78.065 SKTM. "Jangan sampai hak calon siswa yang memang kurang mampu terampas," kata Anggota Komisi E DPRD Jateng, Muh Zen Adv, menanggapi kasus itu.
Duh, kalau sudah demikian, apakah hanya warga miskin yang paham benar akan prinsip luhur nrimo ing pandum. Atau, prinsip itu meluntur setelah sudah mampu? (tribunjateng/cetak/swo)

Penulis: sujarwo
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help