Zohri Bingung Cari Bendera Merah Putih Saat Jadi Pelari Tercepat Dunia

Zohri Bingung Cari Bendera Merah Putih Saat Jadi Pelari Tercepat Dunia dalam Kejuaraan Dunia IAAF U20

Zohri Bingung Cari Bendera Merah Putih Saat Jadi Pelari Tercepat Dunia
YOUTUBE/CAPTURE
Lalu Muhammad Zohri perwakilan Indonesia yang berhasil mencetak sejarah di 2018 IAAF World U20 Championships 

TRIBUNJATENG.COM - Ketika sebagian besar mata penggemar olahraga di Indonesia tertuju kepada Piala Dunia 2018 di Rusia, Lalu Muhammad Zohri mencatatkan sejarah baru dalam dunia atletik Indonesia. Sprinter putra berusia 18 tahun itu secara tak terduga berhasil menjuarai nomor bergengsi cabang atletik, sprint 100 meter, dalam Kejuaraan Dunia IAAF U20 yang berlangsung di Tampere, Finlandia, Rabu (11/7). IAAF adalah federasi atletik dunia.

Istimewanya lagi, Zohri menjadi juara walau start dari lintasan kedelapan. Dalam kejuaraan atletik, sang juara atau pelari unggulan biasanya berlari dari lintasan tengah karena di situlah para pencatat waktu terbaik pada kualifikasi ditempatkan. Namun Zohri berhasil melesat cepat dan foto finis menunjukkan bahwa dialah sang pemenang dengan waktu 10,18 detik. Artinya, pemuda kelahiran 1 Juli 2000 ini berlari sejauh 1,2 meter per detik.

Dari kekuatan kakinya itu, sejarah pun tercipta bagi Indonesia di Ratina Stadium, Tampere, Finlandia, setelah 32 tahun lamanya. Dikutip dari laman resmi IAAF, pencapaian terbaik Indonesia di kejuaraan dunia U-20 adalah finis kedelapan. Selang 32 tahun, Zohri mencetak sejarah baru.

Tak tanggung-tanggung: juara dunia. Ia unggul 0,04 detik atas dua pelari Amerika Serikat, Anthony Schwartz dan Eric Harrison, yang masing-masing menempati posisi kedua dan ketiga.

Catatan waktu 10,18 detik tersebut merupakan rekor pribadi Zohri, sekaligus rekor nasional junior baru di Indonesia. Ia hanya terpaut 0,01 detik dari rekor nasional senior, 10,17 detik, yang dipegang Suryo Agung Wibowo sejak 2009. "Saya akan berpesta malam ini!" kata Zohri dalam situs resmi IAAF.

"Saya sangat gembira dengan PB (personal best/rekor pribadi) saya dan rekor nasional junior. Sekarang saya akan bersiap untuk Asian Games bulan depan. Saya sangat bangga. Ini adalah pengalaman luar biasa dan bagus untuk karier saya," katanya.

Dari video yang dirilis IAAF, Zohri tampak langsung bersujud di lintasan setelah dipastikan merebut medali emas. Namun sesaat kemudian ia terlihat mondar-mondir seperti orang kebingungan di trek. Rupanya, ia mencari bendera Merah Putih. Sementara Schwartz dan Harrison langsung dihampiri petugas dan mendapatkan bendera Amerika Serikat.

Tim maupun staf Kedutaan Besar Indonesia di Finlandia kabarnya memang tidak berpikir menyiapkan bendera Merah-Putih untuk Zohri. Sementara panitia penyelenggara disebut telah menyiapkan, namun butuh waktu cukup lama bagi mereka untuk bisa memberikan bendera itu kepada Zohri. Orang-orang di stadion juga tak ada yang menyangka Indonesia bisa menjadi juara dunia dan mencetak sejarah baru dari kaki seorang remaja asal Lombok.

Dalam sesi foto bersama, hanya Zohri yang tampil tanpa dibalut bendera Merah-Putih. Sementara duo negeri Paman Sam di kanan-kirinya sudah dengan bangga memegang benderanya. Zohri juga tampak sendirian saat merayakan kemenangannya di lapangan. Hal tersebut dikarenakan hanya tiga atlet Indonesia yang lolos kualifikasi untuk bisa mengikuti kejuaraan dua tahunan tersebut.

Dua atlet lain adalah pelari gawang 110 m putra, Halomoan Edwin Binsar, dan lompat galah putra Idan Fauzan. Namun pada saat-saat akhir, Idan--pemegang rekor nasional lompat galah putra--tak jadi berangkat akibat kendala dalam pengangkutan galah yang akan digunakannya di Finlandia. Akhirnya hanya dua atlet yang berangkat, yaitu Zohri dan Halomoan, ditemani pelatih Kikin Ruhuddin dan Erwin Renaldo Maspaitella.

Halaman
123
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved