Ini Makna Sesaji Di Meja Abu Peninggalan Tionghoa di Semarang Galeri

Isi dari buku tersebut merupakan peninggalan-peninggalasan budaya Tionghoa baik yang murni maupun telah mengalami akulturasi.

Ini Makna Sesaji Di Meja Abu Peninggalan Tionghoa di Semarang Galeri
bare kingkin kinamu
Oi Djeng Giok (dua dari kanan) bersama keluarga di depan Meja Peninggalan Tionghoa di Semarang Galeri, Jumat (13/7/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Bare Kingkin Kinamu

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Ada meja abu peninggalan Tionghoa di Semarang Contemporary Art Gallery (Semarang Galeri) Kota Lama.

Beberapa tamu undangan Peluncuran Buku Peranakan Tionghoa Indonesia Edisi Ketiga "Sebuah Perjalanan Budaya" melakukan room tour usai peluncuran buku, Jumat (13/7/2018).

Di sanalah beberapa tamu mengabadikan momen, menikmati kilas balik sejarah yang Bhineka.

Isi buku memiliki kaitan dengan benda-benda di Semarang Galeri.

Isi dari buku tersebut merupakan peninggalan-peninggalasan budaya Tionghoa baik yang murni maupun telah mengalami akulturasi.

Di Semarang Galeri menjadi wujud visualisasi nyata beberapa benda bersejarah yang dituangkan dalam buku, satu di antaranya yakni Meja Abu.

"Ini diletakkan kepada leluhur dan Dewa. Makanya berbeda-beda," tutur keturunan Tionghoa, Oi Djeng Giok, kepada Tribunjateng.com.

Pemilik nama Dayavati ini terlihat bersama beberapa keluarga mengabadikan momen di Semarang Galeri.

Mereka berhenti di depan meja abu.

Halaman
12
Penulis: Bare Kingkin Kinamu
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help