Apakah Bahan Bakar Gas pada BRT Trans Semarang Aman? Ini Penjelasannya

"Jika hal terburuk terjadi yang menyebabkan tabung terlepas dari selang-selang pipa penyambungnya, secara otomatis

Apakah Bahan Bakar Gas pada BRT Trans Semarang Aman? Ini Penjelasannya
tribunjateng/m zainal arifin
UJI EMISI- Petugas melakukan uji emisi pada bus Trans Semarang yang bahan bakarnya sudah dikonversi dari Solar ke Gas, di Halaman Balai Kota Semarang, Selasa (24/7/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pemkot Semarang bekerjasama dengan Pemkot Toyama, Jepang dalam hal pengkonversian bahan bakar Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang dari sebelumnya menggunakan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar menjadi bahan bakar gas (BBG) jenis CNG.

Plt Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Trans Semarang, Ade Bhakti Ariawan mengatakan, setidaknya dalam satu bus Trans Semarang terdapat 6 tabung yang berisi BBG untuk operasional dalam sehari penuh. Dari uji coba di Halaman Balai Kota Semarang, Selasa (24/7/2018) kemarin, diketahui satu tabung di antaranya diletakkan di bagian bawah bus.

Lalu bagaimana tingkat keamanan tabung bahan bakar CNG tersebut? Ade memaparkan, tabung gas converter kit yang dipasang tersebut sudah terpasang lebih dari 500 unit di seluruh Indonesia. Selain itu, tabungnya sendiri sudah melewati uji test standar khusus untuk CNG yang memiliki tekanan 200 bar.

"Jadi berbeda dengan tabung gas LPG, tabung converter kita BBG ini dijamin sangat aman. Tidak perlu khawatir akan meledak seperti tabung LPG," kata Ade, Rabu (25/7/2018).

Ia menjelaskan, valve yang terpasang adalah valve yang aman yang hanya bekerja berdasarkan koneksi dari Electronic Control Unit (ECU). Artinya jika tidak ada perintah dari ECU, gas tidak akan keluar dari tabung.

Dengan demikian, ia juga menjamin tabung bahan bakar gas tidak akan mengalami kebocoran. Termasuk selang sambungan juga tidak akan menyebabkan kebocoran meski sambungan terlepas.

"Jika hal terburuk terjadi yang menyebabkan tabung terlepas dari selang-selang pipa penyambungnya, secara otomatis kran selenoidnya akan tertutup," jelasnya.

Terkait ketahanan tabung, Ade mengatakan, kemasan tabung sudah melewati beberapa tahapan tes termasuk ada video yang melihatkan bahwa tabung ditembak dengan peluru tajam. Hasilnya sama sekali tidak tembus.

"Tabungnya itu ditembak peluru 12 mm tidak tembus. Ketebalannya sudah bisa dibayangkan jika ditembak tidak tembus. Jadi sangat aman juga dari meski terkena air terus menerus," paparnya.

Kepala Dishub Kota Semarang, M Khadik mengatakan, pada tahap awal penerapan bahan bakar gas nantinya pada 72 armada BRT di Koridor 1, 5, 6, 7 dan Bandara. Bahan bakar bus nantinya tidak 100% menggunakan gas tetapi 30% di antaranya tetap menggunakan BBM. Alasannya untuk mematik pengapian saat bus dinyalakan.

Khadik menuturkan, kerjasama ini untuk mensukseskan kegiatan lingkungan hidup. Hal ini dilakukan agar BRT kedepan bisa ramah lingkungan dan mengurangi polusi udara.

Ia merinci, ada penghematan bahan bakar yang terpakai. Untuk menempuh jarak 16,5 km hanya butuh 1,48 liter gas. Sedangkan jika menggunakan solar maka memerlukan 5,5 liter solar.

"Ada penghematan atau substitusi pemakaian bahan bakar solar sebesar 70-72 persen. Selisih 4,1 liter yang tergantikan tersebut menjadi bahan bakar gas yang terpakai, dari survei di Jakarta harga perliter BBG sebesar Rp 3.100/liter gas," tuturnya.

Khadik menuturkan, pemilihan koridor 1,5,6, 7 dan Bandara yang menggunakan BBG karena rute yang ditempuh meliputi jalur padat dan banyak tanjakan. Sehingga dirasa pemakaian BBG sangat cocok karena membuat bus lebih bertenaga. (*)

Penulis: m zaenal arifin
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved