Musim Kemarau, Produksi Penyulingan Minyak Atsiri di Batang Naik 100 Persen

Musim kemarau membuat produksi penyulingan minyak atsiri melimpah naik hingga 100 persen.

Musim Kemarau, Produksi Penyulingan Minyak Atsiri di Batang Naik 100 Persen
TRIBUN JATENG/DINA INDRIANI
Musim kemarau membuat produksi penyulingan minyak atsiri Batang melimpah naik hingga 100 persen. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Dina Indriani

TRIBUNJATENG.COM,BATANG- Musim kemarau membuat produksi penyulingan minyak atsiri melimpah naik hingga 100 persen.

Hal itu dirasakan puluhan pengusaha penyulingan minyak atsiri yang berada di Desa Sidayu, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang.

Satu diantaranya pengusaha minyak atsiri Saropah yang senang pada musim kamarau ini menjadi berkah panen raya.

Pasalnya dua tahun terakhir, minyak atsiri yang menggunakan bahan utamanya daun cengkih sempat gagal karena daun cengkih tidak tumbuh akibat pengaruh cuaca yang tidak mendukung.

"Cuaca sangat mempengaruhi dalam produksi pada musim kemarau ini alhamdulillah hasil bisa naik hingga 100 persen, karena memang kami butuh cuaca panas untuk proses pengeringan daun cengkih, saat musim hujan produksi bisa menurun, dan bisa mempengaruhi daun cengkih yang bisa gagal panen," ujarnya.

Dikatakan Saropah pada musim kemarau ini, dalam seminggu bisa menghasilkan produk minyak atsiri setengah jadi 1200 kilogram dengan omset penjualan hingga 240 juta rupiah perbulan.

Ditambahkan pengelola penyulingan minyak atsiri, Mustakin daun cengkih yangdikumpulkan dari warga dengan harga Rp 3 ribu dalam seminggu bisa menyuling 1.200 kilogram daun cengkih dan setelah disulibg bisa menghasiljan minyak hingga 300 kilogram minyak atsiri.

"Untuk proses penyulingan, memang masih dilakukan dengan cara alami,k untuk bisa menghasilkan minyak atsiri dengan kadar terbaik proses pengeringan daun, pembersihan daun dan penyulingan harus dilakukan dengan baik, seperti pada saat menyuling harus dilakukan hingga 7 sampai 8 jam dengan suhu pembakaran harus stabil," jelasnya.

Hasil produksi penyulingan berupa
atsiri biasanya digunakan sebagai bahan dalam industri pembuatan obat gigi, penyedap rasa, parfum, sebagai anti jamur, anti bakteri, dan anti serangga. Minyak cengkeh juga dapat digunakan sebagai pembius ikan pengganti sianida, sehingga usaha penangkapan ikan hidup dapat lebih ramah lingkungan.

"Biasanya produksi minyak atsiri ini diambil oleh perushaan farmasi atau kimia dan industri parfum di kota-kota besar seperti semarang dan purwokerto," ujarnya.

Untuk harga perkilogram minyak atsiri saat ini bisa dijual hingga Rp 205 ribu , harga tersebut naik jika di bandingkan pada tahun lalu yang hanya berkisar di angka Rp 150-180 ribu perkilogramnya. (din)

Penulis: dina indriani
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved