Petugas Bandara Ahmad Yani Semarang Sita HP Bisa Jadi Senjata Api dari Penumpang

viation Security PT Angkasa Pura I meminta agar penumpang melepas atribut yang melekat dibadannya untuk dimasukkan ke dalam x-ray

Petugas Bandara Ahmad Yani Semarang Sita HP Bisa Jadi Senjata Api dari Penumpang
tribunjateng/rahdyan trijoko pamungkas
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono tinjau kesiapan jelang beroperasionalnya terminal baru bandara Ahmad Yani Semarang, Selasa (5/6). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng Rahdyan Trijoko Pamungkas
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Aviation Security PT Angkasa Pura I meminta agar penumpang melepas atribut yang melekat dibadannya untuk dimasukkan ke dalam x-ray saat melakukan pemeriksaan di area security check Point ( SCP) centralized Bandara Ahmad Yani Semarang.

Hal ini bertujuan untuk mempermudah dilakukannya pemeriksaan.

Airport Security Protection Section Head, Celly Lewerissa menuturkan banyak temuan senjata saat dilakukan pemeriksaan.

Dirinya menemukan telepon genggam dapat menjadi senjata, dan ikat pinggang yang terselip pisau.

"Ada juga ikat pinggang yang diselipkan senjata api. Saya temukan sendiri saat dia masuk di Walk throught metal detector (WTMD) dan berbunyi," tuturnya, Minggu ( 5/8).

Celly menuturkan saat bertugas telah menemukan dua kali senjata api yang diselipkan ke dalam ikat pinggang.

Oleh karena itu pihaknya melakukan pemeriksaan double back dimana penumpang diperiksa kembali saat WTMD berbunyi.

"Ini gunanya agar penumpang mengeluarkan barang bawaannya yang dianggap mencurigakan. Jika masih bunyi maka kami lakukan pemeriksaan," tuturnya.

Airport Security and safety Departement Head PT Angkasa Pura I, Dedy Sri Cahyono alasan pentugas keamanan bandara meminta untuk melepas aksesoris yang melekat di tubuh penumpang yakni untuk memeriksa barang-barang metal yang memicu ancaman di penerbangan.

Aksesoris yang mengandung metal tersebut diperiksa secara detail melalui x ray.

"Kalau ada metal pasti berbunyi," tuturnya.

Dedy mengatakan terkadang penumpang masih enggan untuk melepas jaket maupun ikat pinggang. Oleh karena itu kesadaran masyarakat sangat diperlukan untuk memudahkan pemeriksaan.

"Dari pengalaman sabuk bisa menjadi macam-macam," ujarnya.

Ia menuturkan dengan melpas jaket, topi, dan ikat pinggang tidak menyebabkan antrean panjang saat pemeriksaan. Namun ketika tidak melapas maka akan memperlama pemeriksaan.

"Jadi kami berharap kepada masyarakat telepon genggam, maupun ikat pinggang agar disimpan ke dalam tas dan dimasukkan ke xray. Kami lihat semua di dalam xray," jelasnya.(*)

Penulis: rahdyan trijoko pamungkas
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved