Menilik Ritual Potong Rambut Gimbal di Ajang DCF 2018: Pernah Ada Minta Kentut Ibunya

Ritual pemotongan rambut gimbal dilaksanakan di Kawasan Wisata Candi Arjuna, Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Minggu (5/8)

Menilik Ritual Potong Rambut Gimbal di Ajang DCF 2018: Pernah Ada Minta Kentut Ibunya
tribunjateng/hermawan handaka
Gubernur Ganjar Memotong Rambut Gimbal di Acara Dieng Culture Festival di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, 7 Agustus 2016 

TRIBUNJATENG.COM - "Anak berambut gimbal itu tetap seperti anak pada umumnya, tetapi seperti ada yang menempel dalam dirinya. Kadang bisa memiliki indra keenam, kadang menjadi lebih agresif, kalau minta sesuatu tidak dituruti dia akan marah-marah," ujar Mbah Sumanto, satu pemangku adat Dieng, kepada Tribun Jateng.

Yah, ritual pemotongan rambut gimbal menjadi puncak acara Dieng Culture Festival (DCF) 2018 yang diselenggarakan di kawasan wisata dataran tinggi Dieng, Banjarnegara, pada 3-5 Agustus 2018.

Ritual pemotongan rambut gimbal dilaksanakan di Kawasan Wisata Candi Arjuna, Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Minggu (5/8), dengan disaksikan ribuan wisatawan, baik wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Sebanyak 12 anak dari berbagai daerah mengikuti prosesi 'ruwatan' itu. Satu di antaranya bernama Nurlela Herawati (12), yang berasal dari Tasikmalaya, Jabar, sedangkan 11 anak lain dari Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara.

Sebelum dimulai ritual pemotongan rambut gimbal yang merupakan acara inti DCF 2018, ke-12 anak berambut gimbal melakukan kirab dengan rute dari rumah pemangku adat sampai di Kawasan Wisata Candi Arjuna yang dilanjutkan dengan penjamasan.

Anak perempuan berambut gimbal yang seluruhnya mengenakan kain dan ikat kepala berwarna putih itu mempunyai sejumlah permintaan seperti es krim, ikan lele hidup, ayam jago, kambing, tempe gembus, baju, boneka, sepeda, hingga telepon seluler.

Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat, Mbah Sumanto menuturkan, anak berambut gimbal itu pada dasarnya adalah murid dari Roro Ronce dari Samudera Kidul, yang dititipkan kepada Kiai Agung Kolodete sebagai murid.

Menurut dia, anak berambut gimbal awalnya normal seperti anak pada umumnya, yang kemudian dipilih menjadi murid Kolodete. "Jadi, mereka yang berambut gimbal ini sebenarnya adalah orang-orang pilihan," katanya.

Biasanya, dia menambahkan, saat muncul gimbal itu si anak akan mengalami demam (panas) dan kejang-kejang, yang kalau dibawa ke RS pun tidak akan sembuh.

"Kalau gimbalnya sudah muncul si anak baru akan sembuh. Rambut gimbal itu tidak muncul sekaligus, beberapa saat kemudian bisa muncul gimbal lagi yang didahului dengan sakit panas," tuturnya.

Mbah Sumanto menyatakan, rambut gimbal itu tidak boleh dipotong sembarangan, karena si anak pasti akan kesakitan, dan tetap akan tumbuh gembel lagi yang lebih parah.

Halaman
123
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved