Menilik Ritual Potong Rambut Gimbal di Dieng

Rahmawati (4), anak berambut gimbal, tampak berlarian bersama seorang temannya di kawasan pasar objek wisata Kawah Sikidang

Menilik Ritual Potong Rambut Gimbal di Dieng
tribun jateng/wahyu sulistiyawan
Prosesi cukur rambut gimbal di Dieng Culture Festival. 

TRIBUNJATENG.COM - Rahmawati (4), anak berambut gimbal, tampak berlarian bersama seorang temannya di kawasan pasar objek wisata Kawah Sikidang, Dieng, Banjarnegara, Sabtu (4/8) siang. Saat Tribun Jateng berusaha mendekat, anak itu terus berlarian menghindar.

Gadis cilik berpenampilan kumal itu adalah anak dari seorang pedagang di pasar tersebut. Rahma, sapaannya, tidak mengikuti ritual pemotongan rambut gimbal menjadi puncak acara Dieng Culture Festival (DCF) 2018 yang digelar di kawasan wisata dataran tinggi Dieng, Banjarnegara, Minggu (5/8) lalu.

"Saya sengaja tidak mengikutkan anak saya di ritual itu. Saya kasihan, masak orang masih hidup diberi kain serba putih seperti orang mati. Nanti saja kalau sudah punya uang saya gelar ruwatan sendiri," kata Ibu Rahma, Juwariah, kepada Tribun Jateng.

Ia bercerita, Rahma adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Sejak umur 1 tahun, rambut Rahma mulai ditumbuhi gimbal. Saat muncul rambut gimbal itu, anaknya mengalami demam tinggi hingga 2 minggu.

Warga Dusun Bakal Buntu, Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara itu menuturkan, saat itu Rahma langsung dibawa ke dokter untuk mendapat pengobatan. Tetapi, upaya yang dilakukan tak membuahkan hasil.

"Setelah tumbuh rambut gimbal di kepalanya, panas tubuh Rahma mulai turun, kemudian dia sembuh dengan sendirinya," ujar dia.

Juwariah menyatakan, akibat tumbuhnya rambut gimbal itu, Rahma bisa merasakan seperti ada yang berat menempel di punggugngnya, mengikutinya, dan tak jarang saat demam Rahma bisa melihat makluk gaib, sehingga sering rewel dan ketakutan.

"Biasanya kalau mau tumbuh gimbal lagi badanya panas (demam-Red). Nah saat itulah dia sering melihat yang aneh-aneh, padahal saya atau orang lain tidak melihat. Katanya kan itu memang karena dia anak pilihan (murid Kiai Agung Kolodete-Red)," tuturnya.

Menurut dia, rambut gimbal yang terjadi pada Rahma merupakan turunan. Juwariah saat kecil juga mengalami hal serupa, demikian juga dengan ibunya, atau nenek Rahma yang juga pernah ditumbuhi rambul gimbal.

"Anak kedua saya juga waktu kecil rambutnya pernah gimbal. Tetapi sudah dipotong pada usia 7 tahun, dan sekarang sudah normal, sudah berkeluarga," ucapnya.

Juwariah menyatakan, ruwatan rambut gimbal bukan perkara ringan. Hal itu karena ia harus menyediakan biaya yang tidak sedikit untuk melaksanakan prosesi itu, terutama untuk memenuhi persyaratan atau ubo rampe sesuai dengan kepercayaan masyarakat adat setempat.

Halaman
123
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help