BNPT Rangkul Perguruan Tinggi Lawan Radikalisme

Untag Semarang menyelenggarakan Sosialisasi Pendidikan Anti Radikalisme dengan pembicara utama kepala BNPT

BNPT Rangkul Perguruan Tinggi Lawan Radikalisme
tribunjateng/alaqsha gilang
ANTIRADIKALISME - BNPT melakukan sosialisasi pendidikan anti radikalisme diikuti oleh Rektor Perguruan Tinggi Swasta se-Jawa Tengah di kampus Untag, (10/8/2018). 

Laporan Tribun Jateng, Alaqsha Gilang Imantara

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 (Untag) Semarang menyelenggarakan Sosialisasi Pendidikan Anti Radikalisme dengan pembicara utama dari kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada Jumat (10/8).

Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala BNPT, Pangdam IV Diponegoro, Kapolda Jateng, Gubernur Jateng, Sekretaris Daerah Jateng dan Rektor Perguruan Tinggi Swasta se Jawa Tengah.

Kepala BNPT, Komjen Pol Drs Suhardi Alius, MH, mengatakan, pihaknya berusaha menghilangkan radikalisme negatif. Diantaranya intoleransi, anti NKRI, anti Pancasila dan penyebaran paham-paham otak kiri.

ANTIRADIKALISME - BNPT melakukan sosialisasi pendidikan anti radikalisme diikuti oleh Rektor Perguruan Tinggi Swasta se-Jawa Tengah di kampus Untag, (10/8/2018).
ANTIRADIKALISME - BNPT melakukan sosialisasi pendidikan anti radikalisme diikuti oleh Rektor Perguruan Tinggi Swasta se-Jawa Tengah di kampus Untag, (10/8/2018). (tribunjateng/alaqsha gilang)

Dia menyampaikan, modus lama yang biasa digunakan yaitu kekeluargaan dan pertemanan. Misalnya saja pencucian otak pelaku bom bunuh diri JW Marriot 2009, Dani Dwi Permana.

"Dani berhasil dipengaruhi oleh seniornya, Mukhlas dan Ali Imron tanpa rasa takut untuk melakukan bom bunuh diri. Selain itu, mereka juga diajari cara pembuatan bom," tandasnya.

Di negara Suriah, ISIS mengajarkan kekerasan yang mengerikan. Anak-anak juga banyak dilibatkan pelatihan militer dengan memegang senjata dan ibunya juga mengajarkan hal yang sama.

Di Indonesia, pernah terjadi kasus radikalisme diantaranya Oman Abdurrahman dan Abu latihan militer di sekitar Perguruan Tinggi pada 2004, Abu atau pelaku bom Bali 2 menyiapkan rumah untuk Dr. Azhari di Malang pada 2005, mahasiswa Perguruan Tinggi Jatim atas nama CF bobol dengan hacking sampai Rp 7,9 Miliar dibantu mahasiswi pada 2012.

Kasus lainnya, mahasiswa yang drop out dari Perguruan Tinggi Jatim dalam kasus pengiriman bahan-bahan peledak bom dari Trenggalek ke Makassar 2014, bom gereja Surabaya di Rusunawa dan BS ditembak alumni Perguruan Tinggi Surabaya pada 2018.

Mereka menggunakan cara dengan mendoktrin massa, intoleransi, paham kekerasan, anti Pancasila, anti demokrasi, dan dakwah terbuka.

Halaman
12
Penulis: Alaqsha Gilang Imantara
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help