Mengintip Aktivitas Santap Bersama dalam Tradisi Apitan Desa Guci

Masyarakat Jawa kaya akan beragam tradisi budaya, baik itu warisan leluhur secara turun-temurun, tradisi yang lahir

Mengintip Aktivitas Santap Bersama dalam Tradisi Apitan Desa Guci
Tribun Jateng/Puthut Dwi Putranto
Tradisi Apitan 

TRIBUNJATENG.COM - Masyarakat Jawa kaya akan beragam tradisi budaya, baik itu warisan leluhur secara turun-temurun, tradisi yang lahir setelah masuknya pengaruh agama di Jawa, maupun tradisi yang merupakan perpaduan ajaran leluhur dan ajaran agama. Satu di antaranya adalah tradisi Apitan.

Tradisi ini dilaksanakan di antara dua hari raya Islam, yaitu Idulfitri dan Iduladha. Pelaksanannya yang jatuh pada bulan Dzulko'dah dalam kalender Islam, atau disebut bulan Apit oleh masyarakat Jawa itulah yang membuat tradisi itu dinamai Apitan.

Apitan atau sedekah bumi merupakan selamatan dalam rangka mensyukuri nikmat Sang Pencipta. Hal itu seperti digelar warga Desa Guci, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan yang menggelar ritual itu pada Senin (6/8) lalu.
Acara tradisi sebagai bentuk rasa syukur warga atas hasil pertanian yang melimpah itu digelar di jalan perkampungan setempat. Ratusan warga tampak berkumpul dan bersantap bersama sejumlah masakan yang telah tersedia di hadapannya.

Hidangan utama yang tersaji adalah ayam kampung yang dimasak secara utuh dengan bumbu, atau disebut ingkung. Nasi ingkung di Desa Guci disajikan bercampur nasi, oseng tempe, mie goreng, tempe dan tahu dengan dibungkus daun pisang.

Para bapak di Desa Guci sudah berdatangan menuju lokasi acara sejak siang. Masing-masing membawa keranjang berisi nasi ingkung berbungkus daun pisang yang telah dimasak para istri di rumah.

Setelah sekitar 500 nasi ingkung yang diletakkan di jalan perkampungan setempat terkumpul, warga kemudian berkumpul untuk menggelar doa. Mereka duduk bersila secara lesehan di jalan beton dengan beralaskan tikar.

Usai doa rampung dipanjatkan, warga langsung beramai-ramai menyantap hidangan nasi ingkung di hadapan mereka. Dalam hitungan menit, ratusan nasi ingkung berbungkus daun pisang itu ludes. Hanya beberapa nasi ingkus yang tersisa dan dibawa pulang warga.

"Tradisi apitan dengan menyantap nasi ingkung ini sudah berlangsung ratusan tahun lalu. Warisan leluhur untuk perwujudan rasa syukur kepada Allah SWT," kata tokoh masyarakat Desa Guci, Biyono (73), seperti dikutip Kompas.com.

Menyucikan

Menurut dia, ingkung adalah satu ubo rampe yang berupa ayam kampung yang dimasak utuh dan diberi bumbu opor, kelapa, dan daun salam.

Ubo rampe ingkung dimaksudkan untuk menyucikan orang yang punya hajat maupun tamu yang hadir pada acara hajatan.

Nama ingkung berasal dari bahasa Jawa, yakni kata 'ing' atau 'ingsung' yang berarti aku, dan kata 'manekung' yang bermakna berdoa dengan penuh khidmat.

"Ingkung ini mengibaratkan bayi yang belum dilahirkan, dengan demikian belum mempunyai kesalahan apa-apa, atau masih suci. Selain itu, ingkung juga dimaknai sebagai sikap pasrah dan menyerah atas kekuasaan Sang Khalik," ungkap Biyono.

Kepala Desa Guci, Marbi menyampaikan, sekitar 500 ekor ayam yang telah diolah menjadi masakan nasi ingkung diserahkan warga Desa Guci dalam tradisi apitan yang digelar.

Secara turun temurun, dia menambahkan, nasi ingkung itu secara swadaya dibawa oleh masing-masing warga tanpa adanya unsur paksaan. Tradisi apitan diakhiri pertunjukan seni barongan dan ketoprak

"Dari 200 hektare lahan pertanian, kami bisa panen 800 ton kacang hijau dan padi. Alhamdulilah, hasil panen meningkat 50 persen setiap tahun. Ini wujud rasa syukur kami kepada Allah SWT karena hasil bumi meningkat signifikan," jelas Marbi. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help