Ngopi Pagi

FOKUS: Ngebut setelah Tikungan

Ada yang terkejut, kecewa, senang, optimis, khawatir, lega, dan terharu menanggapi dua pasang Capres

FOKUS: Ngebut setelah Tikungan
tribunjateng/bram
Iswidodo wartawan Tribunjateng.com 

Oleh Iswidodo

Wartawan Tribun Jateng

TRIBUNJATENG.COM - Ada yang terkejut, kecewa, senang, optimis, khawatir, lega, dan terharu
menanggapi dua pasang Capres dan Cawapres yang mendaftar di KPU, Jumat (10/8/2018).

Sebagian terkejut melihat cawapres Jokowi (57) ternyata KH Ma'ruf Amin (75) ketua MUI Pusat dan Rais Aam PBNU. Bukan Prof Mahfud MD yang sudah santer diperkirakan.

Demikian juga, Sandiaga Uno yang menjadi Cawapres Prabowo Subianto. Bukan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang namanya sering disebut telah mengerucut, oleh pengamat politik.

Baik Mahfud MD maupun AHY dianggap sebagai korban politik di tikungan jelang hari-hari mepet waktu pendaftaran di KPU. Dan hebatnya lagi, Mahfud MD dan AHY mengaku menerima keputusan itu serta mendukung sepenuhnya demi kepentingan yang lebih besar yaitu untuk bangsa dan negara.

"Menurut saya, biasa dalam politik. Itu tidak apa-apa, kita harus lebih utamakan keselamatan negara ini daripada sekadar nama Mahfud atau Ma'ruf Amin," kata Mahfud MD, Kamis (9/8/2018). Mahfud mendukung keputusan Jokowi. AHY pun tampak lengket dengan Prabowo maupun Sandiaga. Saat mendaftar di KPU, Prabowo merangkul AHY di kanan dan Sandiaga di kiri.

Sebelumnya, nama Sandiaga muncul di H-3 hari terakhir pendaftaran pasangan capres dan cawapres. Namun jelang batas akhir pendaftaran, Sandiaga yang dipilih, di antara nama yang muncul antara lain AHY, Ustaz Abdul Somad, Anies Baswedan dan Salim Segaf Al Jufri. Tanggal 10 Agustus adalah ulang tahun AHY ke 40, dia pun tampak tegar atas keputusan parpol koalisi yang tidak memilih dirinya menjadi cawapresnya Prabowo. Semua berlalu dalam hitungan hari.

Saatnya dua paslon capres-cawapres ngebut setelah 'tikungan'. Sesudah deklarasi, kemudian mendaftar di KPU, Jumat (10/10), mesin politik lanjut bergerak untuk meraih hati rakyat.

Pidato Jokowi di Gedung Djoang 1945 menekankan apa makna keberangkatan paslon Capres-Cawapres berangkat dari gedung bersejarah itu. Menurut Jokowi, dirinya bersama Makruf Amin sengaja berangkat dari Gedung Djoang 45 karena gedung ini menjadi tempat pembinaan politik untuk para pemuda pejuang antara lain Bung Karno, Bung Hatta, Adam Malik, dan lain-lain.

"Saya yakin Kyai Ma’ruf Amin adalah figur yang tepat untuk mendampingi saya, dalam melanjutkan perjuangan mengisi kemerdekaan. Kita ingin membuat warga dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote merasa bangga menjadi Bangsa Indonesia," kata Jokowi.

Sedangkan pidato Prabowo (66) menekankan keharusan KPU menyelenggarakan pesta demokrasi secara jujur dan adil. Prabowo, menyebut, harapan kader dan rakyat Indonesia, masa depan Indonesia di pundak KPU.

Demokrasi adalah satu-satunya sistem pemerintahan yang terbaik dari yang ada. Apapun keputusan rakyat harus dihormati. KPU harus menjaga keadilan kejujuran kebersihan daripada pemilu. Pemilihan melalui kotak suara itulah kedaulatan rakyat.

"Jangan sekali-kali menghina hak rakyat. Janganlah sekali-kali mencurangi hak rakyat,
biarlah rakyat yang berdaulat menentukan nasib sendiri. Kami hanya ingin berkuasa atas izin rakyat Indonesia, berkuasa untuk mengabdi kepada rakyat Indonesia. Berbakti hingga tak ada orang miskin di Indonesia, tak ada orang lapar di Indonesa," tegas Prabowo.

Tambahan dari Sandiaga Uno (49), pengusaha muda sukses sekaligus Wagub DKI Jakarta dalam pidato tersebut. Sandiaga berjanji menghadirkan pertumbuhan dan pembaharuan sistem ekonomi. Membela hak dan kebutuhan emak-emak. Buka lapangan kerja seluas-luasnya, harga terjangkau dan stabil. Percepatan pembangunan dengan pemerintahan yang bersih. "Selamat Ultah ke 40 Mas Agus Yudhoyono," ucap Sandiaga. (*)

Penulis: iswidodo
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved