Jiono Manfaatkan Limbah Bonggol Jati Menjadi Kerajinan Unik

Jiono Manfaatkan Limbah Bonggol Jati Menjadi Kerajinan Unik. Dia pamerkan kerajinan itu di Jateng Smesco Expo 2018

Jiono Manfaatkan Limbah Bonggol Jati Menjadi Kerajinan Unik
tribunjateng/desta leila kartika
Jiono Manfaatkan Limbah Bonggol Jati Menjadi Kerajinan Unik. Dia pamerkan kerajinan itu di Jateng Smesco Expo 2018 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Desta Leila Kartika

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Pada acara Jateng Smesco Expo 2018 yang diadakan oleh Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah, memamerkan produk unggulan koperasi maupun UMKM dari beberapa wilayah di Indonesia.

Di antaranya seperti Jawa Timur, Palembang, Kabupaten Badung Bali, dan tentu saja termasuk Jateng.

Dari sekian banyak stand yang memamerkan produknya, ada yang menarik, yaitu pengrajin kayu jati yang membuat berbagai macam benda unik.

Jiono Manfaatkan Limbah Bonggol Jati Menjadi Kerajinan Unik
Jiono Manfaatkan Limbah Bonggol Jati Menjadi Kerajinan Unik (tribunjateng/desta leila kartika)

Seperti pohon natal, frame, patung burung, ayam, tempat untuk minuman mineral gelas, meja, kursi, dan masih banyak lagi.

“Awalnya ingin memanfaatkan bonggol kayu jati, akhirnya pada tahun 2007 sampai sekarang membuat UD Kusuma Jati ini. Benda yang kami produksi beragam mulai dari frame, patung, pohon natal, dan masih banyak lagi menyesuaikan permintaan dan minat pasar. Kebetulan pemasaran kita sudah di beberapa wilayah seperti Solo, Klaten, Yogyakarta, Bali, dan Jepara,” terang Jiono, Pengrajin UD Kusuma Jati, saat ditemui Tribunjateng.com Jumat (10/8/2018).

Jiono menceritakan awal mula usaha ini yaitu di Dusun Ngubalan, Desa Banjarbanggi, Ngawi Jawa Timur.

Membahas harga yang pernah diproduksi bergantung ukuran dan kesulitannya. Jadi semakin besar dan rumit motifnya, maka harga juga akan semakin mahal.

“Harga per item biasanya dibandrol mulai dari Rp 65 ribu-Rp 15 juta ke atas. Seperti pohon natal yang ukuran kecil itu mulai Rp 65 ribu-Rp 100 ribuan. Tapi saya pernah menerima pesanan pohon natal besar harganya Rp 17 jutaan,” ujarnya.

Menurut pengrajin asal Ngawi ini, proses pengerjaan bergantung ukuran dan motif yang dipesan. Misal untuk patung atau hiasan kecil paling membutuhkan waktu 15 menit. Sedangkan untuk ukuran yang besar kurang lebih membutuhkan waktu sebulan pengerjaan.

Selain itu bahan dasar hanya dari bonggol jati dari Perhutani, kemudian dikelola oleh lembaga masyarakat hutan lalu dibeli oleh pengrajin.

Di kampung asalnya kurang lebih ada sekitar 30 pengrajin yang mengerjakan kerajinan kayu jati seperti ini.

“Bonggol jati ini merupakan bahan baku dari Perhutani dan termasuk limbah yang tidak bisa dikelola oleh Perhutani. Lalu kami manfaatkan atau dikelola oleh lembaga masyarakat hutan biasa disebut LMDH. Jadi Perhutani menyerahkan limbah hutan ke LMDH dan dijual kepada pengrajin,” jelasnya.

Tujuan mengikuti acara pameran Smesco Expo ini diakui oleh Jiono, yang pasti ingin memperkenalkan produk buatan sendiri dan warga sekitar tempat tinggalnya. Acara seperti ini sangat membantu khususnya para pengrajin yang berada di daerah.

“Jujur untuk mengikuti pameran seperti ini di Semarang saya baru pertama kali. Karena biasanya di Yogyakarta, Ngawi, Jakarta, dan Bali. Maka dari itu saya sangat senang dan juga bersemangat berpartisipasi pada acara ini,” imbuhnya. (*)

Penulis: Desta Leila Kartika
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help