Saking Sepinya Pembeli, Desiwati Biarkan Dagangan Dimakan Rayap

Kios di kanan kiri juga tutup satu per satu karena tidak ada pembeli yang datang," kata Desiwati saat mendatangi kantor, Rabu (5/9).

Saking Sepinya Pembeli, Desiwati Biarkan Dagangan Dimakan Rayap
tribunjateng/raka f pujangga
Artis cantik pemeran sinetron Cinta Fitri, Ajeng Kartika berkunjung ke Semarang dan mampir ke Pasar Johar Darurat, Kota Semarang. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Ade Desiwati memilih menutup kios di Pasar Gedawang, Kecamatan Banyumanik, sejak 2009. Pasar tersebut merupakan satu dari lima pasar di Kota Semarang yang dilaporkan sepi pembeli sehingga membuat pedagang merugi.

"Saya mulai jualan pada 2008. Karena sepi, saya tutup. Kios di kanan kiri juga tutup satu per satu karena tidak ada pembeli yang datang," kata Desiwati saat mendatangi kantor Dinas Perdagangan Kota Semarang, Rabu (5/9).

Ia menceritakan, pasar tersebut dibangun pengembang di atas lahan Pemkot Semarang. Para pedagang mendapatkan kios di Pasar Gedawang lewat cara membeli sehingga memiliki sertifikat kios.

Desiwati membeli kios nomor 8 seharga Rp 16 juta yang dibayar dua kali. Namun, ia akhirnya memutuskan menutup kios karena tidak ada pemasukan padahal harus membayar pegawai setiap bulan.

"Karena sudah tidak mampu bayar pegawai, saya milih tutup. Selama 10 tahun ini saya sudah tidak jualan dan barang dagangan juga habis dimakan rayap," ucapnya.
Kedatangan Desiwati itu untuk meminta Dinas Perdagangan Kota Semarang menghidupkan lagi pasar tersebut. Pasalnya, dua bulan lalu Desiwati mendatangi pasar dan kondisinya memperihatinkan.

"Saya mau masuk pasar saja tidak bisa karena jalannya sudah tertutup ilalang tinggi. Bangunannya juga banyak yang rusak karena lama tidak ditempati. Saya berharap, pasar dihidupkan agar bisa berjualan lagi," pintanya.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto mengakui, dari 32 pasar tradisional yang ada di Kota Semarang, lima di antaranya dalam kondisi sepi, bahkan mati karena tidak ada pembeli.

Terkait hal itu, pihaknya tidak bisa melakukan apa-apa. Alasannya, kewajiban Dinas Perdagangan hanya melakukan perbaikan dan revitalisasi fisik pasar. Sehingga, pedagang harus mencari pelanggan secara mandiri.

"Pasar Gedawang itu pernah kami perbaiki pada 2017. Rencananya, pada 2019 mendatang juga kami anggarkan untuk perbaikan," katanya.

Ia mengungkapkan, pasar tersebut awalnya dibangun pengembang pada 2003, bersamaan dua pasar lain, yaitu Pasar Meteseh dan Banjardowo. Meski dibangun dan dikelola pengembang namun status lahan milik Pemkot. Lantaran pengembang tidak mampu merawat pasar tersebut, akhirnya, status bangunan kios diserahkan ke Pemkot pada 2014.

Halaman
12
Penulis: m zaenal arifin
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved