KREATIF! Bejo Sulap Limbah Kayu Jati Jadi Produk Bernilai Tinggi

Adapun pemuda tersebut Bejo Prichatianto, yang sudah memulai usahanya sejak 2016 lalu.

KREATIF! Bejo Sulap Limbah Kayu Jati Jadi Produk Bernilai Tinggi
TRIBUN JATENG/BUDI SUSANTO
Produk buatan Bejo Prichatianto dari limbah kayu jati, Rabu (12/9/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Budi Susanto

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Melihat limbah kayu jati sisa pembuatan furnitur yang berserakan, seorang pemuda 25 tahun asal Desa Kemiri Barat Kecamatan Subah Kabupaten Batang sulap sisa limbah jadi kerajinan yang memiliki nilai jual tinggi, Rabu (12/9/2018).

Adapun pemuda tersebut Bejo Prichatianto, yang sudah memulai usahanya sejak 2016 lalu. Bermodal alat sederhana seperti gerinda dan gergaji kini usaha dari limbah kayu jati buatannya merambah hingga Pulau Bali.

Produk kerajinan pria yang pernah mengeyam pendidikan di Fakultas Teknik Unnes jurusan gambar bangunan angkatan 2011 tersebut beragam, dari tas, sandal hingga meja.

"Kalau pembuatan tergantung dari tingkat kesulitan, misal tas, saya bisa menyelesaikan dalam waktu dua hari," katanya.

Untuk tas dari bahan limbah kayu jati, ia membandrol dengan harga Rp 400 ribu. Namun untuk furnitur seperti meja harga tergantung dari pemesan dan tingkat kesulitan.

"Pernah karya saya dibayar orang Rp 2 juta untuk lukisan dari limbah kayu jati, paling banyak pemesan dari Pulau Bali," jelasnya.

Produk buatan Bejo Prichatianto dari limbah kayu jati, Rabu (12/9/2018).
Produk buatan Bejo Prichatianto dari limbah kayu jati, Rabu (12/9/2018). (TRIBUN JATENG/BUDI SUSANTO)

Namun usaha Bejo tak berjalan mulus karena tidak bisa memproduksi secara banyak dikarenakan terkendala alat kerja.

"Alat kerja saya masih manual semua, jadi belum bisa memproduksi secara banyak. Namanya juga masih merintis. Dan saya lebih memilih mengembangkan potensi desa dari pada pergi ke kota lain mencari kerja," ujar Bejo.

Bejo sendir berharap pihak Pemkab Batang mendorong pertumbuhan para pelaku usaha kecil yang tersebar di desa-desa.

"Kalaupun kami diberi wadah pasti akan berkembang, bukan masalah produksi atau persaingan kualitas produk. Tapi, ketidak jelasan pasar dimana produk kami harus dijual yang sering membuat para pelaku usaha gulung tikar," timpalnya.(*)

Penulis: budi susanto
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help