Teddy: Sebaiknya Dispernaker Ajari Pencari Kerja untuk Berwirausaha

Ketua DPRD Kota Salatiga Teddy Sulistio menyarankan Sebaiknya Dispernaker Ajari Pencari Kerja untuk Berwirausaha

Teddy: Sebaiknya Dispernaker Ajari Pencari Kerja untuk Berwirausaha
Tribun Jateng/Deni Setiawan
Ketua DPRD Kota Salatiga Teddy Sulistio 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Ketua DPRD Kota Salatiga Teddy Sulistio menyarankan Pemerintah Kota Salatiga melalui Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Dispernaker) Kota Salatiga lebih berkonsentrasi mengajari para pencari kerja untuk berwirausaha.

“Dari sisi tujuan adanya fasilitas Bursa Kerja Online (BKO) Dispernaker cukup baik yakni membantu masyarakat pencari kerja. Tetapi menurut kami lebih optimal dan tepat sasaran ketika mereka diarahkan untuk berwirausaha,” kata Teddy kepada Tribunjateng.com, Rabu (12/9/2018).

Menurutnya, mewirausahakan masyarakat Salatiga yang masih berada di kelompok pengangguran adalah hal penting. Sebab itu adalah bagian dari kemandirian bangsa, khususnya di Salatiga.

“Karenanya, alangkah baiknya mereka dididik, difasilitasi, serta dimotivasi untuk membuka usaha. Sehingga tidak lagi bergantung pada investor atau lainnya. Menumbuhkan mentalitas berusaha serta membuka usaha mandiri adalah yang penting saat ini,” tandasnya.

Dia mencontohkan, saat dirinya secara pribadi sempat berbincang dengan seorang pedagang rujak yang menggunakan gerobak keliling. Pedagang rujak itu berkata apabila keuntungan bersih yang didapat rata-rata adalah antara Rp 60 ribu hingga Rp 75 ribu per hari.

“Kami membayangkan, seandainya dia memiliki gerobak 10 buah saja. Rata-rata bisa memperoleh keuntungan sekitar Rp 600 ribu per hari. Jadi, dianggap saja 25 hari efektif dia berjualan dalam sebulan. Keuntungan bersih yang didapat dari 10 gerobak itu sudah mencapai sekitar Rp 15 juta,” terang Teddy.

Jika diperbandingkan, tambahnya, cukup jauh penghasilan yang diperoleh ketika seseorang menjadi pekerja di sebuah perusahaan atau dalam hal ini adalah buruh pabrik. Ketika mereka sebagai buruh pabrik, rata-rata yang diperoleh atau gajinya adalah Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.

“Itu pun masih pendapatan kotor karena belum dipotong transportasi ataupun konsumsi lainnya. Sebab itu bukan keuntungan. Berbeda dengan yang menjadi wirausaha, contohnya pedagang rujak keliling itu. Silakan ditelaah secara logis saja,” tukasnya.

Dari berbagai contoh itu, dirinya berharap kepada masyarakat untuk dapat memikirkan masa depannya menjadi lebih baik lagi atau demi lebih mensejahterakan mereka secara individu yang kemudian dapat ditularkan kepada siapapun.

“Pemkot Salatiga kami harapkan pun lebih memprioritaskan kepada masyarakat yang masuk kategori masih menganggur untuk dilatih serta dididik berwirausaha. Ajari mereka untuk bisa semakin terampil dalam menangkap peluang usaha. Itu menurut kami terobosan yang tepat guna serta sasaran ke depannya,” harap Teddy.

Penulis: deni setiawan
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved