Begini Jawaban Kejari Batang Terkait Pengakuan Afandi Minta Suntik Mati

Kejaksaan Negeri Kabupaten Batang memberikan pernyataan terkait hebohnya kabar Afandi yang minta disuntik mati.

Begini Jawaban Kejari Batang Terkait Pengakuan Afandi Minta Suntik Mati
tribunjateng/budi susanto
Afandi saat dibawa ke RSUD Kalisari Batang dari kediamannya yang terletak di Desa Timbang, Kecamatan Banyuputih Kabupaten Batang, Jumat (14/9/2018). Afandi sebelumnya mengajukan permohonan agar disuntik mati. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Budi Susanto

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Kejaksaan Negeri Kabupaten Batang memberikan pernyataan terkait hebohnya kabar Afandi yang minta disuntik mati.

Kejari Batang menyatakan bahwa hingga kini tidak pernah menerima permohonan suntik mati yang diajukan oleh Afandi (48) warga Desa Timbang, Kecamatan Banyuputih Kabupaten Batang, Jumat (14/9/2018) malam.

Saat dikonfirmasi Tribunjateng.com via telepon, Kasi Perdata dan Tata Usaha Negara (Kasidatun) Kejari Batang, Dista Anggara menegaskan, pihaknya tidak menerima permohonan dari Afandi, bahkan jika permohonan tersebut diterima tidak akan disahkan.

Baca: Pemkab Batang Tanggung Biaya Pengobatan Afandi yang Ajukan Suntik Mati

Baca: Salehati Shock Suaminya Ajukan Permohonan Suntik Mati, Air Mata Tak Berhenti Menetes

Baca: Ajukan Permohonan Suntik Mati, Mata Afandi Berkaca-kaca Saat Ceritakan Penderitaan Hidupnya

Baca: Begini Analisis Dokter dan Dinkes Terkait Afandi yang Minta Disuntik Mati

"Pihak manapun tidak akan mengesahkan permohonan suntik mati, karena melanggar pasal 344 KUHP yang menyebutkan, barang siapa menghilangkan nyawa orang lain atas pernyataan orang itu sendiri dengan sadar akan diancam hukuman 12 tahun kurungan," katanya.

Pihaknya menambahkan, di Indonesia tidak mengenal euthanasia, atau praktik menghilangkan nyawa seseorang dengan cara memberikan suntikan.

"Di Republik Indonesia tidak mengenal istilah euthanasia, jadi, siapapun yang menghilangkan nyawa seseorang walaupun atas permintaan orang tersebut dipastikan melanggar hukum," terangnya.

Dista menegaskan tidak hanya pelaku yang menghilangkan nyawa seseorang yang akan dihukum, namun jika permohonan Afandi dikabulkan, pihak yang membantunya juga akan terkena sanksi.

"Kami belum menerima permohonan tersebut. Tapi jika benar ada permohonan itu, pihak Kejari sebagai penegak hukum juga tidak akan melegalkannya," timpalnya. (*)

Penulis: budi susanto
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved