Buku Jalan Sunyi Ngesti Pandowo, Cerita Perjalanan Wayang Orang Identitas Kota Semarang

Maka membuat proses wawancara pun sering terkendala oleh berbagai hal. Interview menjadi tidak intens dan terpenggal-penggal

Buku Jalan Sunyi Ngesti Pandowo, Cerita Perjalanan Wayang Orang Identitas Kota Semarang
Tribunjateng.com/Hermawan Endra
Bagi yang ingin mengenal kesenian wayang orang Ngesti Pandowo mungkin buku berjudul Jalan Sunyi Ngesti Pandowo ini bisa menjadi pilihan. Kemarin Rabu, (12/9) peluncurannya dilakukan di kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah, dimeriahkan dialog budaya dan dihadiri pecinta seni. 

Laporan wartawan Tribun Jateng Hermawan Endra Wijonarko

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Bagi yang ingin mengenal kesenian wayang orang Ngesti Pandowo mungkin buku berjudul Jalan Sunyi Ngesti Pandowo ini bisa menjadi pilihan. Kemarin Rabu, (12/9) peluncurannya dilakukan di kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah, dimeriahkan dialog budaya dan dihadiri pecinta seni.

Penulis buku Jalan Sunyi Ngesti Pandowo yang merupakan pensiunan wartawan, Bambang Iss Wirya menjelaskan, buku ini membutuhkan waktu pengerjaan satu tahun.

Saat membuat proyek Ngesti Pandowo kesulitannya karena selama masa-masa pencarian data, riset, dan survei, bahkan narasumber pun seakan masih kurang percaya apakah saya serius akan membuat buku.

Maka membuat proses wawancara pun sering terkendala oleh berbagai hal. Interview menjadi tidak intens dan terpenggal-penggal.

"Kalau sudah begini saya hanya bisa tercenung. Maka metoda saya adalah melakukan pengamatan akan kejadian dan fenomena yang terjadi di lingkungan Ngesti. Pihak-pihak di sekitar saya baru percaya saya serius, setelah melihat saya sudah mendapatkan sponsor untuk membiayai buku ini," kata Bambang Iss.

Tapi untuk sebuah karya dari hasil sebuah pengamatan atau catatan jurnalistik, buku ini tetap bisa penting untuk dibaca orang, terutama bagi mereka yang memiliki ikatan emosional pada seni pewayangan. Atau mereka generasi milenial yang ingin mengetahui jagat seni pertunjukan tradisional.

Buku ini bercerita romantika kehidupan para seniman wayang orang. Pahit, getir, ambisi, persaingan, kesetiaan, dan kebahagiaan dari para senimannya. Sebuah kondisi yang tak banyak diketahui khalayak penontonnya, sekali pun itu penggemar fanatiknya.

Para seniman pekerja seni itu begitu mencintai dunianya. Mereka menjadi seniman panggung yang setia mengabdi sampai usia tua, bahkan kecintaan yang dibawa mati. Inilah kisah-kisah di balik layar kelompok wayang orang Ngesti Pandowo di Semarang.

Kerinduan masyarakat akan seni wayang orang pun membuncah. Tak heran juga banyak warga Semarang yang bermukim di kota, pulau, atau bahkan di luar negeri selalu ingin kembali menonton Ngesti Pandowo.

Buku ini mengungkap perjalanan Ngesti Pandowo dari masa ke masa. Ketika masa perjuangan, menuju masa kejayaan, saat-saat kejayaan menjadi ikon budaya, dan sampai tibanya masa suram. Dijual dengan harga Rp50 ribu.

Menurut Bambang, terlalu sayang jika aset intangible di Jawa Tengah ini tidak dirawat. Ngesti Pandowo adalah aset seni tradisi yang sampai sekarang masih ada di Kota Semarang, yang selama lebih dari tiga dekade menjadi ikonnya Kota Semarang.

Ngesti Pandowo berdiri di Madiun tahun 1937, dan menetap di Semarang sejak 1954 atas prakarsa Wali Kota Semarang waktu itu Hadi Soebeno. Saat ini di usia yang ke 80 tahun Ngesti Pandawa masih berdiri kendati tidak lagi berjaya.

Namun di usia tuanya, Ngesti Pandowo seolah berjalan sendiri di tengah semarak globalisasi perkotaan, tanpa ada pembelaan yang berarti dari pemerintah.

"Celakanya, yang terjadi andalah sangat banyak catatan bagus, unik, dan humanistis tercecer yang muncul dari narasumber justru ketika buku sudah mulai proses cetak. Mungkin ini sebuah isyarat akan ada buku Ngesti jilid kedua yang harus saya siapkan," kata Bambang. (*)

Penulis: hermawan Endra
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved