TIM PKM Undip Modifikasi Teknologi Bioslurry Plus Menjadi Pupuk Tidak Berbau

Dengan menggunakan teknologi Bioslurry plus, tim PKM membuat pupuk organik tanpa bau dari sisa pengolahan biogas

TIM PKM Undip Modifikasi Teknologi Bioslurry Plus Menjadi Pupuk Tidak Berbau
Tribun Jateng/ Dhian Adi Putranto
Tim PKM Undip mengajak para petani di Desa Montongsari menggunaka teknik bioslurry plus untuk membuat pupuk dari ampas biogas. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Dhian Adi Putranto

TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Di tangan tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Diponegoro (Undip) di Desa Montongsari, Weleri, ampas dari pengolahan biogas yang dibiarkan menumpuk dan bau menjadi sebuah produk serbaguna.

Dengan menggunakan teknologi Bioslurry plus, tim PKM itu membuat pupuk organik tanpa bau dari sisa pengolahan biogas yang sudah tersedia di desa itu.

Kedatangan Tim PKM Undip di desa tersebut tidak hanya membuat pupuk saja, namun juga mengajak petani di desa itu turut memanfaatkan teknologi bioslurry plus untuk meningkatkan hasil pertanian mereka

Ketua Tim PKM Undip di Desa Montongsari,Florentina Kusmiati (53) menjelaskan pada tahun sebelumnya tim PKM Undip juga telah datang di desa tersebut untuk mengajak para petani memanfaatkan teknologi bioslurry untuk membuat pupuk namun hasil kurang maksimal.

"Sebelumnya kami telah membuat reaktor bioslury di desa ini, namun sayangnya ampas biogas masih dibiarkan menumpuk serta hasil yang belum optimal dikarenakan bau," ujarnya Minggu (16/9/2018).

Yafizham (58), anggota TIM PKM tersebut menambahkan, kedatangan kedua kalinya TIM PKM di desa itu membawa teknologi bioslurry yang sudah diperbarui.

Mereka telah melakukan modifikasi pada teknologi bioslury sehingga hasil pupuk yang dikeluarkan sudah tidak berbau.

"Kami campur bioslurry dengan batuan fosfat, arang kayu, dan buah-buahan busuk dalam reaktor khusus. Setelah dibiarkan sebulan nanti keluar lindinya," tuturnya Yafizham yang juga merupakan pengampu mata kuliah pertanian organik.

Anggota lainnya, Bagus Herwibawa (28) menambahkan pengolahan ampas biogas menjadi pupuk dan digunakan dalam pertanian merupakan pertanian yang mengusung adat dan budaya jawa, Menurutnya pertanian sesuai adat jawa selalu menerapkan pertanian yang ramah lingkungan.

"Sebelumnya kami juga megajak para petani di desa ini untuk menerapkan teknik bercocok tanam sesuai dengan filosofi jawa yang selalu menjujung pertanian ramah lingkungan," jelasnya.

Bagus menjelaskan dalam adat pertanian adat jawa ada 13 fase penting pertumbuhan tanaman padi yang harus dipahami petani.

Dimulai dari fase sebar (senthong barang aji kebak ing rubedo), winihan (wiwitane kahanan), tancep (tandur cethek pituture), mupus (murih unggul satnyo sawah iro), manak (marake nigan arupo karang), mutu (metune bangsa kutu), ngapit (ngancik pametuning tikus).

Meteng (mengku tengoro minggahing kemonggo), ngembang (ngembakaning bakalan walang), najin (nancepke ajir bathang), ngapur (ngancik purnaning rantapaning gesang), nguning (ngupoyo ningkeping jotho) dan panen (panggunggunge ajineng damen)

"Untuk mencapai wulen sepanen jotho tinoto las kang mentes (satu rumpun bisa panen serempak, bulir dalam satu malai tertata rapi, semua bulir yang ada bernas), ada 13 fase yang dipahami petani agar hasil panen tepat sasaran. seperti contoh pada fase ngapit adalah waktu yang tepat untuk pemupukan, tapi hati hati saat fase ini banyak tikus, jadi petani harus waspada," jelasnya.(*)

Penulis: Dhian Adi Putranto
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved