Ngopi Pagi

TAJUK: Opsi Sanksi dari PSSI

Meninggalnya Haringga Sirla membawa duka mendalam bagi publik bola nasional. Pendukung Persija Jakarta itu tewas akibat penganiayaan

TAJUK: Opsi Sanksi dari PSSI
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
Abduh Imanulhaq atau Aim wartawan Tribun Jateng 

TRIBUNJATENG.COM -- Meninggalnya Haringga Sirla membawa duka mendalam bagi publik bola nasional. Pendukung Persija Jakarta itu tewas akibat penganiayaan sejumlah oknum bobotoh.

Kekerasan itu dia alami beberapa jam sebelum Persija menghadapi tuan rumah Persib Bandung di Liga 1. Dari video yang beredar luas, kita tahu pengeroyokan Haringga berlangsung kejam.

Bak api yang menyulut jerami, beragam reaksi atas kasus ini muncul serentak. Di luar hujatan dan makian, berbagai pendapat dan analisis terlontar. Termasuk masukan dan usulan kepada para pemangku kepentingan, terutama bagi pemerintah dan PSSI.

Sebagai induk organisasi sepakbola, PSSI segera mengambil kebijakan. Terhitung mulai kemarin, kompetisi nasional dibekukan hingga waktu tak terhingga.

Tepatkah keputusan tersebut? Waktu yang akan menjawabnya. Kita berharap kebijakan itu sementara bisa memuaskan semua yang berkepentingan.

Di sisi lain, publik harus bersabar menunggu sanksi yang akan dijatuhkan kepada pihak-pihak terkait. Tentu tak perlu ada kubu yang cuci tangan, kemudian melemparkan kesalahan kepada yang lain.

Perlu diingat, penyelesaian beberapa kasus kekerasan yang menimpa suporter masih belum tuntas. Pengurus PSSI masih memiliki sejumlah utang penjelasan, satu di antaranya mengenai kematian Banu Rusman.

Pendukung Persita Tangerang ini tewas Oktober tahun lalu akibat kekerasan suporter di Cibinong. Saat itu, Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi berjanji akan menghukum yang bersalah.

Janji itu masih belum ditunaikan. Bahkan hasil investigasi internal saja tidak ada selayaknya pengusutan sebuah kasus. Tak ubahnya beberapa masalah lain dalam sepakbola nasional, ambles ke dasar bumi.

Ketegasan PSSI dalam menyikapi sebuah kasus merupakan poin penting agar kekerasan ini tidak terus berulang. Ketika terjadi pembiaran, sebagian fans bola akan melihatnya sebagai ketidakbecusan organisasi ini mengurus anggotanya.

Halaman
12
Penulis: abduh imanulhaq
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved