Menikmati Sensasi Kopi Tarik dengan Pemandangan Lebatnya Hutan Petungkriyono

Hal yang dilakukan oleh pemuda itu membuat pengunjung tertarik dan datang ke lapak kopi tersebut.

Menikmati Sensasi Kopi Tarik dengan Pemandangan Lebatnya Hutan Petungkriyono
TRIBUN JATENG/BUDI SUSANTO
Peracik kopi di lapak yang ada di Lapangan Sigeger, Dukuh Dukuh Kasipar Kabupaten Pekalongan dalam acara Festival Rogojembangan, sedang menyiapkan kopi tarik untuk pembeli, Sabtu (29/9/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Budi Susanto

TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Semerbak aroma kopi tercium dari kejauhan, lebih mendekat seorang pemuda tengah menyedu kopi ke dalam teko.

Tak seperti peracik kopi biasanya, pemuda yang menempati satu di antara lapak yang ada di acara Festival Rogojembangan di Lapangan Sigeger, Dukuh Kasipar Kabupaten Pekalongan tersebut menggunakan alat berupa kain untuk menampung gilingan kopi.

Kain tersebut digunakan untuk menyaring ampas kopi yang diseduh, setelah diseduh kain tersebut ditarik keatas kemudian diturunkan ke teko, proses tersebut dilakukan berulang kali hingga kopi siap disajikan ke pembeli.

Hal yang dilakukan oleh pemuda itu membuat pengunjung tertarik dan datang ke lapak kopi tersebut.

Baca: Polisi Tangkap Kurir Narkoba Berkedok Tukang Bakso Keliling dan Pedagang Kopi

Selain cara penyajian yang terbilang tidak umum dikalangan masyarakat sekitar desa, harga yang ditawarkan juga cukup murah yaitu Rp 6 ribu untuk kopi tarik, dan Rp 8 ribu untuk kopi susu.

Diterangkan Jiun pemuda yang menyewa lapak tersebut, ia sengaja menyajikan kopi tarik mengingat banyaknya pengunjung festival.

“Kalau di cafe biasanya menggunakan Teknik V60 untuk disajikan ke pembeli, namun teknik tersebut hanya bisa untuk satu atau dua cangkir, berbeda dengan kopi tarik, dengan kapasitas teko dan saringan lebih banyak,” kata pemuda yang biasanya membuka lapknya di kawasan alun-alun Kabupaten Pekalongan itu, Sabtu (29/9/2018).

Jiun menambahkan, kopi tarik tersebar di beberapa daerah seperti di Sumatra dan daerah lainya, dan teknik pembuatannya terbilang cukup mudah.

“Kalau biji kopi yang kami gunakan, merupakan biji kopi lokal yaitu kopi dari Kajen Kabupaten Pekalongan, baik jenis robusta ataupun arabika cocok diseduh menjadi kopi tarik,” ujarnya.

Merebaknya kedai kopi di daerah dianggapnya menjadi pelaung yang bisa dimanfaatkan oleh penggiat bisnis.

“Di Kabupaten Pekalongan sendiri ada 22 kedai, untuk itu setiap ada cara seperti festival kali ini kami pemggiat bisnis kopi juga ikut berpartisipasi,” timpalnya. (*)

Penulis: budi susanto
Editor: suharno
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved