Tokoh Tionghoa Solo Ini Sebut Keterlibatan Etnis Tionghoa dalam Politik Indonesia Masih Minim

Menurut Sumartono, banyak warga etnis Tionghoa masih enggan terlibat dalam pesta demokrasi tersebut.

Tokoh Tionghoa Solo Ini Sebut Keterlibatan Etnis Tionghoa dalam Politik Indonesia Masih Minim
tribunjateng/suharno
Sejumlah pria berkaus merah, kulit putih dan bermata sipit bersama Kopral Besar Bagyo keliling Pasar Gede Solo sambil teriakkan bhinneka tunggal ika, Rabu (25/1/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Akbar Hari Mukti

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Etnis Tionghoa yang berada di Indonesia merupakan bagian dari bangsa Indonesia. Meski begitu peluang keterlibatan etnis Tionghoa di kancah perpolitikan Indonesia dinilai masih minim.

Hal tersebut diungkapkan tokoh Tionghoa asal Kota Bengawan, Sumartono Hadinoto saat ditemui, Rabu (3/10/2018).

Menurut Sumartono, banyak warga etnis Tionghoa masih enggan terlibat dalam pesta demokrasi tersebut. Bahkan banyak di antara mereka enggan menggunakan haknya dalam pemilu.

Menurut Sumartono, hal tersebut karena mereka tak mau dianggap terlibat dalam politik praktis kelompok tertentu. Hal lain yang menjadi keengganan kelompok etnis Tionghoa, karena diskriminasi yang mereka terima akibat dampak dari perpolitikan Indonesia.

"Di Solo, dampak politik yang mengena ke masyarakat Tionghoa tiga kali terjadi. Artinya ada trauma yang masih menghantui mereka hingga akhirnya tak mau berpartisipasi," papar dia.

Sumartono pun mengaku akan mengubah hal tersebut. Ia mengaku akan seaktif mungkin memberi sosialisasi atau mengingatkan pentingnya ikut serta dalam pemilu.

Misalnya dalam menggunakan haknya, Sumartono mengingatkan satu suara sangat penting. Ia tak ingin keengganan etnis Tionghoa menggunakan haknya, menghilangkan kesempatan negeri ini dipimpin yang baik karena suaranya kalah.

"Dalam beberapa pertemuan dengan rekan-rekan, saya mengingatkan dan memberi pemahaman akan pentingya pemilu dan agar tidak golput," ujar dia.

Sekali lagi ia mengingatkan, di Indonesia semua orang punya hak dan tempat yang sama.

"Solo memang bukan daerah rawan konflik. Tapu beberapa isu nasional bisa menjadi pemicu keterbelahan massa di Solo. Semoga ke depan lebih baik lagi dan mari ikut berkontribusi," papar dia. (Ahm)

Penulis: akbar hari mukti
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved