Mengenal Tradisi Buka Luwur, Mengganti Mori di Makam Pengembang Islam di Boyolali

Mereka sedang mempersiapkan agenda ritual Buka Luwur yang akan digelar pada hari Jumat terakhir di bulan Suro tersebut

Mengenal Tradisi Buka Luwur, Mengganti Mori di Makam Pengembang Islam di Boyolali
Istimewa
Tradisi Buka Luwur Kembali Digelar 

TRIBUNJATENG.COM, BOYOLALI – Melewati hari keduapuluh Bulan Muharram atau Suro pada penanggalan Jawa sejumlah juru kunci Makam Syech Maulana Ibrahim Magribi di Desa Candisari; Kecamatan Ampel terlihat sibuk.

Mereka sedang mempersiapkan agenda ritual Buka Luwur yang akan digelar pada hari Jumat terakhir di bulan Suro tersebut.

Agenda tahunan yang juga disebut warga sebagai sadranan tersebut salah satu prosesinya yakni penggantian kain lurup di beberapa makam di komplek tersebut.

“Buka Lurup atau Gantos Mori ini maksudnya untuk nguri uri kebudayaan dari nenek moyang terdahulu. Mengenang perjuangan dan pengembangan agama Islam di Pantaran,” ungkap Panitia Pelaksana, Wahyu Windiharno, disela sela ritual pada Jumat (5/10).

Terdapat lima yang diganti kainnya. Makam tersebut yakni Syech Maulana Ibrahim, Maghribi Dewi Nawangwulan, Ki Ageng Pantaran, Ki Ageng Mataram dan Ki Ageng Kebo Kanigoro.

Tradisi Buka Luwur diawali dengan kirab kain luwur dan kelengkapan lain diserahkan Wakil Bupati (Wabup) Boyolali, M. Said Hidayat kepada sang juru kunci makam. Dilanjutkan dengan prosesi penggantian kain tersebut. Usai rangkaian penggantian kain dilanjutkan dengan pembacaaan dzikir dan tahlil yang diikuti para ratusan peziarah yang memadati komplek makam. Sebagai akhir, digelar tradisi kenduri yang membagikan makanan kenduri yang diyakini bisa dialap berkahnya.

“Warga Pantaran membawa tumpeng nanti setelah berdoa dan makan bersama, untuk kebersamaan,” ungkap Wahyu.

Salah satu pengunjung, Siti Munawiroh setelah prosesi kenduri mengatakan bahwa dia dan keluarganya sengaja datang di Pantaran untuk berziarah.

"Setiap Suro selalu kesini (Pantaran-red), kalau enggak kesini rasanya ada yang kurang. Semoga diberi keberkahan saat berjualan dan diberi kesehatan," ungkap warga Tengaran; Kabupaten Semarang ini.

Sementara Wabup, M. Said Hidayat berharap agenda ini bisa menjadi sarana untuk dapat mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Satu tradisi budaya agar kita bisa nguri – uri sekaligus bisa merekatkan kekeluargaan dan tali persaudaraan. Semoga bisa menjadi pengingat kita semua,” ungkap Wabup Said.

Tradisi yang sudah turun temurun ini, diharapkan Wabup Said bisa dijaga dan diteruskan oleh generasi – generasi penerus. (*)

Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved