Juli 2018, Nilai Investasi Masuk Jawa Tengah Mencapai 27,6 Triliun

Juli 2018, Nilai Investasi Masuk Jawa Tengah Mencapai 27,6 Triliun. Kata Prasetyo Ariwibowo, pada Tribunjateng.com, Selasa (9/10/2018).

Juli 2018, Nilai Investasi Masuk Jawa Tengah Mencapai 27,6 Triliun
tribunjateng/desta leili kartika
Kepala DPMPTSP Jawa Tengah, Prasetyo Ariwibowo, saat melakukan sesi wawancara dengan rekan media. Berlokasi di Hotel Kesambi Hijau Semarang. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Desta Leila Kartika

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, mengadakan acara penyusunan rancangan awal rencana strategis tahun 2018-2023, Selasa (9/10/2018) ini.

Tujuan utama kegiatan ini dalam rangka meningkatkan realisasi penanaman modal untuk mewujudkan masyarakat Jateng yang semakin sejahtera.

Kegiatan ini juga memiliki dua indikator yaitu tingkatkan kepuasan masyarakat dalam pelayanan perizinan, dan meningkatkan pertumbuhan nilai investasi baik domestik maupun asing.

DPMPTSP akan menggerakkan atau menjalankan potensi untuk mempercepat reformasi birokrasi yang dinamis, serta memperluas sasaran ke Pemerintah Kabupaten atau Kota.

Selain itu mempererat kapasitas ekonomi rakyat dan membuka lapangan kerja baru untuk mengurangi kemiskinan sekaligus pengangguran.

Kepala DPMPTSP Jateng, Prasetyo Ariwibowo menjelaskan pihaknya juga memiliki 6 program di antaranya program perizinan, penanganan peraduan dan peningkatan layanan masyarakat, program peningkatan pelayanan data dan informasi, perencanaan dan pengembangan modal, program promosi dan kerja, terkahir program pengawasan dan pengendalian.

"Terkait jumlah investasi yang masuk saya masih menunggu laporan LKPM (Laporan Kegiatan Penanaman Modal), karena baru keluar pada minggu ketiga bulan Oktober 2018. Tapi kalau melihat bulan Juli 2018 kemarin kami sudah mencapai Rp 27,6 triliun dari target yang seharusnya Rp 24 triliun," jelas Prasetyo Ariwibowo, pada Tribunjateng.com, Selasa (9/10/2018).

Prasetyo mengatakan sekarang ini pihaknya mencoba mengatasi bagaimana meningkatkan promosi penanaman modal, mempercepat pelaksanaan berusaha, dan mengawal investasi yang masuk.

Sedangkan melihat dari tahapannya secara konteks jangka panjang menurut Prasetyo pihaknya masih dalam pertengahan. Maksudnya adalah memasuki tahap percepatan pembangunan infrastruktur dan energi yang hampir selesai.

Sekarang ini pihaknya sedang menuju tahap pengembangan sekala besar yang bisa mendorong usaha kecil dan menengah di masyarakat.

"DPMPTSP Provinsi Jateng sudah memiliki layanan OSS (One Stop Service) yaitu perizinan berusaha yang bisa diurus dalam waktu singkat. Layanan OSS ini memiliki 3 layanan di antaranya pelayanan prioritas, mandiri, dan perbantuan," ujarnya.

Menurut Prasetyo membahas dampak pelemahan nilai tukar rupiah bisa saja terjadi umumnya bagi mereka yang bergelut di konstruksi. Semisal modal belanjanya impor biasanya terkendala, tapi untuk perusahaan besar sudah memprediksi angkanya akan naik berapa.

Sehingga ketika akan mengalami kenaikan sampai 15 ribu tidak akan berpengaruh, karena sudah mempersiapkan kenaikan diatas harga yang sekarang.

"Jumlah perizinan di luar OSS sampai bulan September 2018 ada sebanyak 7.516, sedangkan dari 166 izin yang ada di Provinsi Jateng sebanyak 74 masuk OSS, sisanya 92 yang masih kami tangani. Namun yang termasuk OSS kami juga masih menangani kalau terkait pemenuhan komitmen, contoh ketika akan mengurus surat izin penangkapan ikan," tandasnya. (*)

Penulis: Desta Leila Kartika
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help