Kurs Rupiah Melemah

Kurs Rupiah Melemah : Rupiah Terpuruk Makin Dalam dan Kembali Melemah 0,13%

Rupiah semakin terpuruk. Selasa (9/10) kemarin, kurs spot rupiah melemah 0,13 persen menjadi Rp 15.238 per dolar AS

Kurs Rupiah Melemah : Rupiah Terpuruk Makin Dalam  dan Kembali Melemah 0,13%
TRIBUNNEWS/JEPRIMA
Petugas jasa penukaran uang asing saat menghitung pecahan 100 dolar AS di PT Ayu Masagung, Jakarta Pusat, Kamis (1/3/2018). Nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS melemah dan menyentuh Rp 13.761 per Dolar AS. Tribunnews/Jeprima 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Rupiah semakin terpuruk. Selasa (9/10) kemarin, kurs spot rupiah melemah 0,13 persen menjadi Rp 15.238 per dolar AS. Sejalan, kurs tengah rupiah Bank Indonesia terkikis 0,26 persen ke 15.233 per dolar AS.

Analis riset FXTM, Lukman Otunuga menyatakan, sejumlah faktor menyebabkan sentimen investor terhadap negara berkembang kian meredup dalam beberapa bulan terakhir. Faktor tersebut antara lain ketegangan perdagangan, ekspektasi kenaikan suku bunga AS, dan penguatan nilai tukar dolar AS.

"Walaupun depresiasi signifikan rupiah sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, namun dampak negatifnya dapat merambat ke ekonomi Indonesia," jelas Otunuga dalam laporan risetnya seperti dilansir Kompas.com, kemarin.

Ia menyebut, pelemahan nilai tukar rupiah secara signifikan dapat memberikan tekanan yang semakin besar terhadap utang luar negeri Indonesia. Kenaikan suku bunga AS dan penguatan dolar AS menghantam negara-negara dengan defisit transaksi berjalan (current account deficit) dan utang luar negeri.

"Sehingga Rupiah Indonesia tetap berada di posisi yang tidak menggembirakan," sambung Otunuga.

Di sisi lain, ekspektasi semakin besar Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga di kuartal ini guna menolong rupiah dan menghambat arus keluar modal. Walau demikian, Otunuga memandang langkah tersebut tidak terlalu membantu rupiah, terutama memandang BI sudah menaikkan suku bunga sebanyak lima kali sejak pertengahan Mei tahun ini.

"Investor akan tetap sangat memperhatikan rilis data penjualan ritel bulan Agustus yang dapat memberi wawasan mengenai keadaan ekonomi Indonesia. Data penjualan ritel yang baik dapat meningkatkan sentimen terhadap ekonomi Indonesia dan mendukung rupiah, namun peningkatan akan tetap terancam oleh faktor eksternal," terangnya.

Sementara Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan pelemahan mata uang Garuda terjadi lantaran People's Bank of China (PBoC) memutuskan memangkas giro wajib minimum (GWM) China. Selain itu, tekanan pada mata uang Afrika Selatan terkait risiko politik juga turut membebani mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Di samping itu, adanya badai Michael yang bergerak menuju teluk Meksiko hingga pantai Florida Utara, mengakibatkan hampir 20 persen produksi minyak AS ditutup. Hal itu berpotensi mengerek harga minyak.

Dari dalam negeri, analis Valbury Asia Futures Lukman Leong bilang, rupiah tertekan akibat cadangan devisa turun hampir 3,1 miliar dolar AS.

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help