AKP Agus Dharmayuda Peduli Penderita Gangguan Jiwa Lewat Berbagi Kue

"Dengan begini, mereka akan merasa disayangi, tidak lagi terbuang dan diasingkan masyarakat," imbuh Diyono.

AKP Agus Dharmayuda Peduli Penderita Gangguan Jiwa Lewat Berbagi Kue
tribunjateng/rival almanaf
Kanit Turjawali, Polrestabes Semarang, AKP Agus Dharmayuda menyampaikan pihaknya ingin memberikan kejutan terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Anggota Polrestabes Semarang memberi kejutan dengan memberi bingkisan kepada penghuni panti dinas sosial Among Jiwo, Rabu (10/10). Kegiatan ini merupakan bagian dari memperinati Hari Kesehatan Mental.

Mereka datang membawa kue dan makanan kecil untuk penghuni panti sosial. "Ini sesuai program Kapolrestabes yang meminta kami untuk peduli dan berbagi. Kami memilih membagikan kue tart kepada para penghuni panti," kata Kanit Turjawali, Polrestabes Semarang, AKP Agus Dharmayuda.

Dari kunjungannya itu, ia melihat, kesejahteraan penghuni panti masih di bawah kelayakan. Selain mendapat penolakan dari keluarga, mereka juga beberapa kali diusir masyarakat karena dianggap meresahkan.

Terpisah, Kepala Panti Among Jiwo, Diyono, mengatakan, kepedulian anggota polisi ini bisa membantu kesembuhan mental para penghuni panti. Menurutnya, yang dibutuhkan mereka yang mengalami gangguan jiwa adalah kepedulian dari warga sekitar.

"Dengan begini, mereka akan merasa disayangi, tidak lagi terbuang dan diasingkan masyarakat," imbuh Diyono.

Ada 464 Kasus Pemasungan

Sementara, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah, mengatakan, ada 464 kasus pemasungan di Jateng terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Data tersebut sudah divalidasi sepanjang Januari-Juni 2018. Dari jumlah itu, Dinkes berhasil melepaskan pemasungan 109 orang.

Namun, Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Dinkes Jateng, Arfian Nevi, mengatakan, 15 orang yang berhasil dibebaskan dari pemasungan kembali dipasung pihak keluarga.

"Ini PR (pekerjaan rumah) kami untuk membebaskan mereka. Bukan berarti dilepaskan begitu saja tanpa pengawasan. Harus diobati dan dikendalikan," ujarnya saat Seminar Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Kantor Dinkes Jateng, Jalan Piere Tendean, Kota Semarang, Rabu (10/10).

Pun, Arfian mengimbau warga, tidak sungkan melaporkan adanya kasus pemasungan atau sekadar berempati mengobatkan warga setempat yang memiliki gangguan jiwa berat. Menurutnya, kasus pemasungan kebanyakan terjadi pada status sosial warga menengah dan bawah.

Berdasar data Buku Saku Kesehatan Triwulan II Dinkes Jateng, Kabupaten Rembang terbanyak penanganan kasus pemasungan, yakni 53 kasus. Disusul Kabupaten Brebes 49 kasus dan Wonogiri 47 kasus. Sebagai informasi tambahan, Kota Semarang pernah terdapat 1 kasus, namun sudah dibebaskan.

Sedangkan daerah yang bersih dari kasus pemasungan selama periode Januari-Juni 2018 ada 8 wilayah. Kabupaten Klaten, Banjarnegara, Magelang, Purworejo, Tegal dan Kota Surakarta, Pekalongan, serta Magelang.

Melengkapi, Psikiater Anak dan Remaja RSJ Prof dr Soerojo Magelang, Hamargomurni berpendapat setiap orang perlu mengelola stres. Upaya itu, lanjutnya, sebagai bentuk pencegahan dari terganggunya kesehatan jiwa. Beberapa upaya yang bisa dilakukan meliputi beribadah, bersosialisasi, dan melakukan hobi. (tribunjateng/dna/val)

Penulis: Daniel Ari Purnomo
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help