Rumah Berkaca Antipeluru Dijual Rp 760 Miliar

Rumah bergaya modern dengan luas 966 meter persegi itu terletak di Lenox Hill, timur Central Park.

Rumah Berkaca Antipeluru Dijual Rp 760 Miliar
Compass Real Estate via Kompas.com
Rumah berkaca antipeluru di New York, Amerika Serikat, milik Eduardo Eurnekian. 

TRIBUNJATENG.COM - Seorang miliarder Argentina, Eduardo Eurnekian, menjual rumah mewahnya di Kota New York, Amerika Serikat, dengan harga 50 juta dollar AS atau lebih dari Rp 760 miliar.

Pemilik rumah itu sangat peduli dengan keamanan huniannya sehingga dilengkapi dengan sistem sekuriti tanpa celah.

Hal itu diwujudkan dengan membuat jendela berkaca antipeluru.

Rumah bergaya modern dengan luas 966 meter persegi itu terletak di Lenox Hill, timur Central Park.

Ruangan di dalamnya terdiri dari enam kamar tidur dan delapan kamar mandi.

Hunian ini juga dilengkapi dengan lift, tempat penyimpanan anggur, dan sejumlah ruang terbuka, termasuk teras beratap dengan pemandangan 360 derajat.

"Nilai arsitektur dari rumah ini tidak dapat ditemui di tempat lain," kata Maria Belen Avellaneda, seorang perantara dari Compass Real Estate, seperti diwartakan CNBC.com, akhir pekan lalu.

Baca: Harga Rumah Subsidi Bakal Naik 10 Persen Tahun 2019, Kementerian PUPR Tengah Menggodok Formulanya

Dia mengatakan, desain hunian ini melambangkan kemewahan, kelembutan, kebersihan, kecerdasan, keamanan, efisiensi, serta menyangkut dengan teknologi dan globalisasi.

Menurut majalah Forbes, Eurnekian (85) memiliki kekayaan bersih 2,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 41 triliun.

Kekayaan itu didapat dari berbagai usaha, di antaranya kepemilikan pabrik tekstil di Palermo, Argentina; stasiun televisi, dan bisnis yang berhubungan dengan bandara.

Corporacion America Airports SA merupakan perusahaan miliknya yang mengoperasikan mayoritas maskapai penerbangan di Argentina dan berstatus terbuka (go public) pada awal tahun ini.

Perusahaan ini juga mengoperasikan bandara terbesar di Armenia, tempat orang tua Eurnekian dilahirkan.

Pada awal abad ke-20, mereka melarikan diri dari negara itu untuk menghindari genosida atau pembantaian massal.

Pada Januari tahun ini, Eurnekian mengatakan kepada Bloomberg bahwa meskipun usianya sudah tua, dia masih berenang dan berlatih yoga setiap hari dan belum berencana untuk pensiun.

"Jika Anda bekerja untuk menghasilkan uang, Anda salah. Anda bekerja bukan untuk menghasilkan uang. Seorang seniman melukis bukan untuk mendapatkan uang, dan seorang pengusaha yang baik ibarat seorang seniman," ujar Eurnekian kepada Forbes. (*)

Editor: suharno
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved