Rusak Barang hingga Ganggu Binatang, Kenali Tanda-tanda Anak Mengalami Gangguan Kesehatan Jiwa

Para orangtua diimbau untuk terus memberikan perhatian kepada anak dan harus terus memperkuat ketahanan mental

Rusak Barang hingga Ganggu Binatang, Kenali Tanda-tanda Anak Mengalami Gangguan Kesehatan Jiwa
Audita Widya Pinasthika
Hamargomurni, Psikiater RSJ Magelang, saat memaparkan tentang Materi Gangguan Jiwa pada Anak dan Remaja dalam Seminar Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Lantai 8 Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah pada hari Rabu (10/10/18). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pentingnya kesadaraan orangtua untuk menyadari adanya tanda-tanda anak mengalami stress atau gangguan jiwa sangat diperlukan.

Beberapa orangtua mungkin masih tidak menyadari munculnya tanda-tanda masalah kesehatan yang dialami anak. Padahal anak-anak dan remaja juga dapat mengalami masalah kesehatan jiwa.

Penyebab anak-anak mengalami gangguan jiwa dapat dikenali dari perubahan emosional dan perilaku anak.

Pada Seminar dalam Rangka Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Lantai 8 Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Psikiater anak dan remaja Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof. Dr. Soerojo Magelang, Hamargomurni, memaparkan tentang pentingnya deteksi dini masalah kesehatan pada anak dan remaja.

“Ciri-ciri utama seorang anak mengalami gangguan jiwa itu bisa dilihat dari emosional dan perilakunya. Perubahan pola pikir, mood dan perilaku yang menggangu fungsi kehidupan. Ngambek, uring-uringan, nggak mau ketemu kalau ketemu orang baru. Pada anak mencakup gangguan emosional dan perilaku. Bisa langsung dibawa ke paskes, puskesmas atau dokter keluarga atau ke psikolog.” tutur Hamargomurni, Rabu (10/10/18).

Permasalahan kesehatan jiwa di Indonesia harus ditangani secara sistemik. Mulai dari komponen yang terkecil yaitu keluarga, baru meluas ke komponen luas seperti sekolah sektor kesehatan dan masyarakat.

Hamargomurni juga menyebutkan bahwa menurut WHO, di seluruh dunia terdapat 10-20% anak dan remaja yang mengalami masalah kejiwaan. Sedangkan menurut UNICEF tahun 2018, diperkirakan dari 5 remaja ada 1 orang yang mengalami kesehatan jiwa.

“Kalau anak kecil ternyata bisa mengalami kesehatan gangguan jiwa, menurut DSM-V, yaitu jenis jenis penggolongan gangguan mental anak dan remaja, ternyata gangguan mental terhadap anak remaja itu bisa di derita oleh anak dan remaja.” kata Hamargomurni.

Jenis-jenis gangguan mental tersebut yaitu seperti retardasi mental, gangguan bahasa seperti tidak lancer dalam pengungkapan ekspresi atau telat berbicara, autisme, ADHD atau gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif, gangguan belajar disleksia, gangguan motorik seperti Tourette yaitu, gerakan tanpa disadari dan tidak bisa di kontrol, dan gangguan penyesuaian yaitu seperti gangguan perilaku menentang.

Hamargomurni menekankan bahwa jika tanda-tanda tersebut tidak dideteksi secara dini dan tidak segera diintervensi, hal ini akan berkembang menjadi conduct disorder. Conduct disorder merupakan gejala seperti agresi terhadap orang atau binatang, merusak barang-barang, suka berbohong atau mencuri dan melanggar aturan.

“Nah, itu gangguan-gangguan jiwa yang besar banget ya, kalau tidak sampe 17 tahun paling banyak ADHD, paling banyak 3-17 tahun menurut sensus dunia, ada obat-obatan terlarang, alkohol, gangguan perilaku, kecemasan, depresi, sindrom Tourette. Lalu umur 12-17 tahun, umumnya diagnosisnya obat-obatan terlarang, alcohol, dan sekarang ada seperti fenomena gunung es, tidak tampak dipermukaan Cuma satu, dua, tiga, empat. Tapi sebenernya banyak sekali yang tidak dilaporkan yaitu kasus bunuh diri.” Imbuhnya.

Hamargomurni berpesan kepada seratus peserta yang menghadiri Seminar Kesehatan Jiwa Internasional yang dihadiri oleh Dinkes kab/kota Jateng, Linprog Dinkes Prov Jateng, Balkesmas, Asosiasi Guru SD-SMA Jateng dan lain-lain untuk terus waspada terhadap penggunaan gadget pada anak-anak.

Hal ini disebabkan karena bahaya game online yang muncul yaitu sebuah challenge yang menyakiti diri sendiri, ditantang hingga menyerah dan akhirnya meninggal. Game yang perlu diwaspadai ini adalah Momo Challenge dan Blue Whale Challenge.

Para orangtua diimbau untuk terus memberikan perhatian kepada anak dan harus terus memperkuat ketahanan mental. (*)

Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved