Pengelola Rumah Sakit Soroti Pembayaran Klaim BPJS Seret

Pembayaran klaim BPJS yang sempat mengalami keseteraan menjadi perhatian rumah sakit.

Pengelola Rumah Sakit Soroti Pembayaran Klaim BPJS Seret
Tribun Jateng/ Hermawan Endra Wijonarko
Suasana bincang nasional Ika Medica dengan tema ''JKN, Tantangan dan Harapan'' yang digelar di Ruang Serba Guna Fakultas Kedokteran Undip, Tembalang, Semarang, Sabtu (13/10/2018).  

Laporan wartawan Tribun Jateng Hermawan Endra Wijonarko

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pembayaran klaim BPJS yang sempat mengalami keseteraan menjadi perhatian pengelola rumah sakit.

Dampaknya begitu terasa, dalam hal operasional sebab rumah sakit harus membayar jasa dokter, tenaga kesehatan, penyedia obat hingga vendor alat kesehatan.

Ketua Kompartemen Jaminan Kesehatan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Daniel B Wibowo mengatakan, bila dana klaim belum dibayarkan oleh BPJS Kesehatan, rumah sakit akan mengalami kesulitan arus kas (cash flow).

Umumnya, rumah sakit kecil paling terkendala dampaknya karena memiliki keterbatasan cadangan dana. Namun mereka harus dihadapkan pada posisi melayani pasien peserta JKN-KIS sebaik mungkin.

Hal itu disampaikan Daniel dalam bincang nasional Ika Media (Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Undip) 2018. Acara yang mengusung tema ''JKN, Tantangan dan Harapan'' tersebut digelar di Ruang Serba Guna Fakultas Kedokteran Undip, Tembalang, Semarang, Sabtu (13/10).

Hadir sebagai pembicara lain Direktur RSUD AM Parikesit Tenggarong Kaltim dr Martina Yulianti SpPD FINASIM MARS, centre of coding excellence dr Lily Kresnowati MKes, Sekjen Pengurus Besar IDI Pusat dr Adib Khumaidi SpOT.

Nampak juga Dirjen Pelayanan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI dr Bambang Wibowo SpOG(K) MARS, Deputi Direksi BPJS wilayah Jawa Timur dr Handaryo MM AAK CRGP dan moderator Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Wilayah Jateng Dr dr Sutopo Patria Jati MMM Kes serta Senior Health Spesialist at World Bank dr Pandu Harimurti.

Lebih lanjut Daniel yang juga alumni FK Undip justru pesimistis dalam beberapa tahun ke depan BPJS Kesehatan bisa membayar tunggakan ke rumah sakit. Sebab, bila melihat selisih pengeluran dan penerimaan sebesar Rp16,5 triliun akan sulit ditutup.

''Memang saat ini sudah ada upaya-upaya seperti subsidi dari BPJS, tetapi apakah akan terus seperti ini, kami malah tidak yakin ke depan klaim rumah sakit bisa terbayar karena memang tidak ada uangnya,'' ungkap dia.

Halaman
12
Penulis: hermawan Endra
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help