Liputan Khusus

Nugroho Kaget Air PDAM Jadi Kecokelatan

Musababnya, air yang mengalir dari keran sambungan Pperusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di rumahnya sangat keruh, hingga berwarna kecokelatan.

Nugroho Kaget Air PDAM Jadi Kecokelatan
tribunjateng/rival almanaf
Ilustrasi Air Keruh 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Warga Bangetayu Wetan, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, Agung Nugroho, kaget bukan kepalang. Musababnya, air yang mengalir dari keran sambungan Pperusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di rumahnya sangat keruh, hingga berwarna kecokelatan.

"Kemarin-kemarin air yang mengalir sempat seperti bercampur lumpur, keruh kecokelatan‎. Tak layak untuk digunakan, apalagi dikonsumsi," ujar Nugroho, kepada Tribun Jateng.

‎Disampaikan, ia merekam aliran air yang begitu keruh itu menggunakan video, dan ia share ke grup media sosial, serta melaporkan hal itu ke layanan aduan PDAM Tirta Moedal Kota Semarang. Tak lama kemudian, petugas pun datang dan mengambil sampel air.

Dituturkan lebih lanjut, aliran air yang sangat keruh itu berlangsung sekitar tiga jam, dari sekitar pukul 07.00 - 10.00. Setelahnya, air yang mengalir lebih jernih, meski masih sedikit keco‎kelatan.
Menurut dia, sejak tiga pekan terakhir, aliran air dari PDAM tidak tiap hari mengalir. Tetapi digilir, sehari mengalir, sehari kemudian tidak.

"Sudah tiga minggu ini giliran, sehari ngalir sehari kemudian mati. Hampir tiap musim kemarau seperti ini, apalagi ini (kemarau) cukup panjang," ucapnya. ‎Ditambahkan, saat mendapat giliran, air biasanya dapat mengalir ‎dari sekitar pukul 07.00 hingga petang menjelang malam.

‎Dituturkan, selama ini air dari PDAM digunakan ia dan sekeluarga untuk kebutuhan konsumsi dan mandi. Sementara, untuk mencuci dan lainnya, ia mengandalkan air dari sumur artetis.‎‎
"Kalau dapat giliran seperti ini, solusinya ya saat mengalir kami tampung air di ember. Kami sediakan tujuh ember besar untuk penampungan," ucapnya.

Kondisi lebih parah dialami warga di komplek Perumahan Graha Mukti, ‎Tlogosari Kulon, Kecamatan Pedurungan, Tjahjono Rahardjo. Disampaikan, air dari sambungan pipa PDAM di rumahnya sudah tiga pekan tak mengalir.

"Sudah tiga minggu ini tak ada air mengalir ke dalam rumah, mati," katanya.

Padahal, sebelumnya sehari-hari ia mengandalkan air dari PDAM untuk semua kebutuhan sehari-hari. Mulai dari konsumsi, mencuci,‎ mandi, dan lainnya. "Sekarang, untuk konsumsi kita beli air galon. Bikin anggaran tambah boros," ujar Tjahjono.

Sedangkan untuk mandi, mencuci, dan lainnya, ia mengandalkan air dari sumur artetis.‎ Hal serupa, menurutnya, dialami oleh para tetangga di komplek perumahan yang ditinggalinya.

Halaman
12
Penulis: tri_mulyono
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved