Gondoroso Peramu Sesaji Keraton Solo Bingung Cari Penggantinya, Harus Janda

Gondoroso Peramu Sesaji Keraton Solo Bingung Cari Pengganti, Harus Janda. Anak-anaknya tak ingin ikuti jejak.

Gondoroso Peramu Sesaji Keraton Solo Bingung Cari Penggantinya, Harus Janda
TRIBUN JATENG/GALIH PERMADI
Sri Murdarsih, Gondoroso Peramu Sesaji Keraton Solo Bingung Cari Pengganti. 

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Gondoroso, peramu sesaji Keraton Kasunanan Surakarta, Solo bingung cari pengganti.

Peramu sesaji Keraton Solo harus seorang janda.

Sri Murdarsih, peramu sesaji Keraton Solo bisa jadi menjadi generasi terakhir menjadi gondoroso karena anak-anaknya tak ingin meneruskan jejaknya.

Sambil menatap langit ruang tamu, nampak mimik wajah Sri Murdarsih dipenuhi kebingungan. Wanita berusia 77 tahun ini sedang berpikir keras, mencari sosok yang akan menggantikan jejaknya sebagai gondoroso, peramu sesaji di Keraton Kasunanan Surakarta, Jawa Tengah.

Baca: Pemkot Solo Rencanakan Lelang Ulang Pasar Darurat Alun-alun Lor Keraton Solo

Baca: Jelang Kirab Pusaka Keraton Solo, Ubo Rampe Disiapkan oleh Abdi Dalem Perempuan

Dapur di rumah Gondoroso Peramu Sesaji Keraton Solo
Dapur di rumah Gondoroso Peramu Sesaji Keraton Solo (TRIBUN JATENG/GALIH PERMADI)

"Anak-anak saya  ndak mau meneruskan. Mereka ndak mau pakai gelungan dan pakai kemben karena sudah haji. Bingung. Siapa yang mau menggantikan saya nanti," ucap wanita yang tinggal di Kampung Gondorasan, Solo, Kamis (25/10/2018), siang.

Sri sudah tidak trengginas lagi, ia kini menggunakan alat bantu jalan. Keenam anaknya enggan ikuti jejaknya dan lebih memilih untuk mengikuti pasangan hidupnya masing-masing.

"Masalahnya anak saya itu ya jauh, di Bontang, di Jakarta, di Surabaya. Jadinya yah, ndak bisa toh. Jadi Gondoroso itu, harus menetap di sini. Anak saya itu, ada enam. Empat perempuan, dua laki-laki. Namun sudah berumah tangga semua. Jadi yah, ndak bisa. Ndak ada yang mau jadi Gondoroso ya mas. Biar Keraton saja nanti yang memilih," ujarnya.

Sri sudah 35 tahunan menjadi Gondoroso meneruskan jejak sang ibu. Sri diketahui masih kerabat dekat dengan Raja Pakubowono ke-V.

Sri menjelaskan menjadi seorang peramu sesaji di lingkungan Keraton Solo diwajibkan berstatus janda.

"Saya itu awalnya tinggal di Pati, Jawa Tengah. Suami saya meninggal tahun 1983. Lalu, saya ke Keraton gantikan ibu saya sebagai Gondoroso, dan ayah saya ini memang keturunan Pakubowono ke-V," terang Sri.

Halaman
12
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved