Pemerintah Terapkan Cukai Vape, AMTI: Vape Harus Diregulasi Sebagaimana Rokok

Rokok elektrik (vape) mulai dikenal di Indonesia pada sekitar tahun 2006. Rokok elektrik mulai mendapat tempat di sebagian kalangan

Pemerintah Terapkan Cukai Vape, AMTI: Vape Harus Diregulasi Sebagaimana Rokok
yayan isro roziki
Petugas Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe Madya Pabean (KPPBC TMP) A Semarang, memeriksa liquid vape, di sebuah outlet penjual rokok eletrik (vape) dan liquidnya, di Kota Semarang, kemarin. 

‎Laporan Wartawan Tribun Jateng, Yayan Isro' Roziki

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Rokok elektrik (vape) mulai dikenal di Indonesia pada sekitar tahun 2006. Pelan-pelan, rokok elektrik mulai mendapat tempat di sebagian kalangan masyarakat.

Saat ini, mengisap vape menjadi tren dan lifestyle, bagi kalangan tertentu.

Head of Departement ‎Departement Media Centre Asosiasi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI), Hananto Wibisono, mengatakan kehadiran vape hanya akan menjadi tren bagi 'segelintir' masyarakat, dan sulit berkembang lebih jauh.

"Produk tembakau dalam negeri, masih akan sangat didominasi oleh rokok (konvensional)," katanya, kepada Tribun Jateng, kemarin.

Kendati demikian, AMTI mendukung langkah pemerintah untuk mengatur peredaran vape, sebagaimana ‎adanya regulasi untuk rokok konvensional. Menurut dia, sama halnya dengan mengisap rokok konvensional, mengisap vape juga memberikan dampak bagi kesehatan.

"Regulasi yang dikeluarkan, harus disertai analisa dan kajian ilmiah yang matang‎, serta mempertimbangkan bukti-bukti ilmiah yang ada," ujar Hananto.

Karena itu, baginya penerapan cukai bagi liquid vape adalah sebuah keniscayaan. Menurut dia, tarif cukai 57 persen dari harga eceran adalah tarif cukai tertinggi untuk produk tembakau dan turunannya.

"Tarif cukai untuk liquid vape ini lebih tinggi dari tarif cukai rokok, tapi secara garis besar pendapatan untuk negara, cukai rokok masih sangat jauh lebih besar," tuturnya.

Di sisi lain, ia menambahkan, rokok konvensional, khususnya kretek, merupakan produk warisan busaya nusantara, yang telah ada sejak ratusan tahun. Karena itu, menurutnya, kretek menjadi bagian penting identitas bangsa Indonesia.

"Terlepas, apakah ini diakui dalam perundangan atau tidak, kretek tak ‎bisa dilepaskan dari sejarah nusantara," tegasnya. (yan)

Penulis: yayan isro roziki
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved