Ngopi Pagi

FOKUS : Menghargai Pahlawan

Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 2018, Pemerintah Indonesia melalui Presiden RI Joko Widodo memberikan gelar Pahlawan Nasional

FOKUS : Menghargai Pahlawan
tribunjateng/grafis/bram kusuma
ERWIN Ardiansyah wartawan Tribun Jateng 

Oleh Erwin Ardian

Wartawan Tribn Jateng

Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 2018, Pemerintah Indonesia melalui Presiden RI Joko Widodo memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada enam tokoh.

Mereka yang menerima gelar Pahlawan Nasional adalah adalah alm Abdurrahman Baswedan dari Yogyakarta, alm Pangeran Mohammad Noor selaku tokoh dari Kalimantan Selatan, alm Agung Hajjah Andi Depu selaku tokoh dari Sulawesi Barat, alm Depati Amir selaku tokoh dari Bangka Belitung, alm Kasman Singodimejo selaku tokoh dari Provinsi Jawa Tengah serta alm KH Syam'un selaku tokoh dari Banten.

Gelar Pahlawan Nasional dikukuhkan dengan Keputusan Presiden RI Nomor 123/TK/TAHUN 2018 tanggal 6 November 2018 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Dalam usulan oleh Dewan Gelar ke Presiden Jokowi, tidak tercantum nama Presiden ke-2 RI Soeharto dan Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Nama Soeharto dan Gus Dur sempat menjadi kontroversi karena sudah beberapa kali diajukan namun tidak disetujui.

Proses penganugerahan gelar pahlawan itu sendiri memang tak sederhana. Kementerian Sosial selama ini yang menangani proses seleksi pemberian gelar pahlawan nasional. Melalui Tim Peneliti Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP), mereka meneliti dan mengkaji nama-nama yang diusulkan. Setelah itu barulah nama-nama yang diusulkan diserahkan ke Dewan Gelar. Baru dari sana Dewan Gelar lapor ke Presiden.

Ada ungkapan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. Penganugerahan gelar pahlawan adalah bentuk penghargaan pemerintah bagi orang yang telah berjasa terhadap negeri ini.
Penghargaan ini juga akan dinikmati dan dirasakan oleh keluarga dan ahli waris pahlawan yang bersangkutan. Namun lebih dalam dari itu, sebenarnya penghargaan tertinggi terhadap pahlawan adalah bagaimana cara bangsa ini mengisi kemerdekaannya.

Para pahlawan tentu berharap apa yang telah mereka perjuangkan selama hidupnya bisa dilanjutkan oleh generasi penerus. Tak terbayangkan perasaan para pahlawan nasional ketika mengetahui bangsa ini sekarang justru sibuk saling hujat dan mencari kesalahan satu sama lain.

Bukannya bersatu dan saling membantu mengisi kemerdekaan, belakangan bangsa ini sibuk saling menjatuhkan antar kelompok, dan berebut posisi di pemerintahan.

Lebih miris lagi, ada sekelompok anak bangsa yang mulai menyerukan meninjau kembali dasar pembentukan bangsa ini. Mereka yang tak merasakan pahit getirnya merebut kemerdekaan, itu bak pahlawan kesiangan ingin mengganti ideologi negara ini. Dengan santainya, mereka mengesampingkan kesepakatan para pendiri Indonesia.

Kelompok radikal ini menganggap ideologi merekalah yang paling benar dan cocok untuk membawa Indonesia menuju kemajuan. Pemikiran ini tentu tak adil karena mereka tak ikut berjuang dan merumuskan dasar ketika ini mulai terbentuk.

Jika mengaku menghormati pahlawan, sudah saatnya bangsa ini mulai bahu-membahu mengisi kemerdekaan dengan mempersiapkan Indonesia menjadi bangsa maju dan mengejar ketertinggalan dari bangsa lain yang usianya jauh lebih muda. (*)

Penulis: erwin adrian
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved