Komunitas Difalitera Gelar Kegiatan Literasi pada Penyandang Tuna Netra di Solo

Para pegiat sastra ini menggelar pelayanan sosial yakni kegiatan literasi bagi penyandang tuna netra untuk melihat respon mereka terhadap minat baca

Komunitas Difalitera Gelar Kegiatan Literasi pada Penyandang Tuna Netra di Solo
Tribun jateng/akbar hari mukti
Para penyandang tuna netra Rumah Pelayanan Sosial Bhakti Candrasa sedang mendengarkan audiobooks dari komunitas Difalitera, Sabtu (10/11/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Akbar Hari Mukti

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Para pegiat sastra komunitas Difalitera menggelar kegiatan literasi di Rumah Pelayanan Sosial Bhakti Candrasa, Laweyan, Solo, Sabtu (10/11/2018).

Para pegiat sastra ini menggelar pelayanan sosial yakni kegiatan literasi bagi penyandang tuna netra untuk melihat respon mereka terhadap minat baca, khususnya terhadap karya sastra.

Penggagas Difalitera, Indah Darmastuti mengungkapkan, tema yang dipilih di kegiatan ini adalah 'merayakan sastra Indonedia dalam suara'.

Pemilihan karya sastra, menurutnya, karena karya sastra merupakan pendekatan literasi di masyarakat yang paling lentur, sebab dapat dinikmati semua kalangan.

"Maka kami mencoba menghadirkan sebuah terobosan yang bisa bermanfaat untuk para tuna netra mengakses sebuah karya sastra melalui suara," ujarnya.

Ia merinci, kegiatan dimulai dengan pembacaan puisi dari penyandang tuna netra. Lalu dilanjutkan dengan pemutaran audiobook, yang diklaimnya merupakan gagasan bagi para penyandang tuna netra bisa tetap menikmati karya sastra.

Komunitas pegiat sastra ini pun memiliki sejumlah audiobooks di laman www.difalitera.org yang dapat diunduh secara gratis.

"Ada audiobook dalam bentuk CD dan di dalam web. Kami sempat putar beberapa audiobooks dan ada terdapat masukan dari kawan-kawan (penyandang tuna netra)," jelas Indah.

Para penyandang tuna netra, lanjut Indah, memberi catatan agar audiobook dapat lebih ditangkap secara utuh kepada mereka. Misal artikulasi kata diperjelas, intonasi, pemilihan jeda, dan lain-lain.

"Cara menarasikan cerita belum maksimal. Sehingga cerita yang menangkap masih kurang mantap," urainya.

Ia mengaku ke depan akan mengembangkan proyek audiobooks ini tak hanya berisi cerpen dan puisi saja. Tetapi dikembangkan ke jenis cerita anak, cerita remaja, cerita daerah dan lain-lain.

"Persyaratan, harus karya aman. Tak ada potensi masalah atau sengketa soal hak cipta," urainya.

Seorang penyandang tuna netra di panti sosial tersebut, Widodo (30) mengaku senang dengan kegiatan tersebut. Apalagi saat audiobooks mulai diperdengarkan.

"Saya ingin audiobooka ini lebih dari proses membaca. Misal tokoh masing-masing disuarakan sesuai gender. Agar penggambaran yang ditangkap kami bisa lebih jelas," urai dia. (Ahm)

Penulis: akbar hari mukti
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved