Bupati Juliyatmono Sebut Wayang Kampung Sebelah Memang dari Dahulu Suka Mengkritik

Bupati Karanganyar Juliyatmono menyebut Padepokan Wayang Kampung Sebelah memiliki ciri khas

Bupati Juliyatmono Sebut Wayang Kampung Sebelah Memang dari Dahulu Suka Mengkritik
Tribun Jateng/ Yasmine Aulia
Bupati Karanganyar Juliyatmono saat hadir dalam acara pertunjukan seni pagelaran Wayang Kampung Sebelah di pelataran Radio Swiba Karanganyar, Jawa Tengah, Sabtu (10/11/2018) malam.  

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Yasmine Aulia

TRIBUNJATENG.COM, KARANGANYAR - Bupati Karanganyar Juliyatmono menyebut Padepokan Wayang Kampung Sebelah memiliki ciri khas yaitu dengan gaya nyentriknya menyampaikan kritikan dalam sajian pertunjukan wayang.

Hal itu disampaikannya saat menyaksikan pertunjukan seni pagelaran Wayang Kampung Sebelah di pelataran Radio Swiba Karanganyar, Jawa Tengah, Sabtu (10/11/2018) malam.

"Bagusnya wayang kampung sebelah ini karena kritikan yang disampaikan melalui pertunjukan. Dari dulu memang terkenal suka mengkritik," ujar Juliyatmono.

Menurut Juliyatmono, kritik memang diperlukan untuk mewujudkan kemajuan, sehingga sebuah pertunjukkan seni yang disusun untuk menyampaikan kritik membangun seperti Wayang Kampung Sebelah ini, merupakan ide yang bagus.

Pada acara ini, orang nomor satu di Bumi Intanpari ini hadir dengan busana yang semi formal. 

Kaos putih yang dikenakan dipadukan dengan blazer krem serta bercelana jeans biru, dipadukan dengan sepatu hitam ber list putih. Sedangkan mayoritas yang hadir mengenakan baju batik.

Pagelaran Wayang Kampung Sebelah ini dihadirkan dalam rangka memperingati hari jadi Radio Swiba yang ke 47 pada 15 November mendatang.

Mengangkat tema sambut Pemilu Damai 2019, Wayang Kampung Sebelah menghadirkan cerminan bagi masyarakat dalam menghadapi pesta demokrasi.

Ki Njliteng Suparman, selaku dalang, menceritakan tetang kekecewaan warga atas kemenangan Lurah Somad yang dianggap tidak berkompeten.

Setelah diselidiki, kemenangan Somad berindikasi kecurangan.

Dalam cerita wayang berjudul Mawas Diri Menakar Berani, kesalahan terpilihnya Lurah di pemilihan tersebut terjadi karena sistem demokrasi yang diterapkan di Indonesia dianggap kurang tepat.

"Kedaulatan bukan berada di tangan rakyat, melainkan rakyat hanya sebagai subyek perolehan angka saja. Jadi peran serta kedaulatan rakyat hanya berlaku beberapa detik saat berada di bilik suara," ujar Ki Njliteng Suparman melalui tokoh wayang yang ia mainkan.(Jje)

Penulis: Yasmine Aulia
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved