Liputan Khusus

Warga Terdampak Proyek Tol Minta Kejelasan

Pembebasan lahan sering menjadi persoalan paling rumit dalam proyek infrastruktur jalan. Bahkan kendala tersebut sering mengakibatkan proyek tertunda

Warga Terdampak Proyek Tol Minta Kejelasan
Istimewa
Pekerja menggunakan alat berat melakukan pembongkaran bangunan rumah warga terdampak pembangunan jalan tol Semarang-Batang di Kelurahan Kembangarum, Kecamatan Semarang Barat, kemarin. Pembongkaran dilakukan karena pemilik sudah menerima uang ganti rugi lahan. 

TRIBUNJATENG.COM -- Pembebasan lahan sering menjadi persoalan paling rumit dalam proyek infrastruktur jalan. Bahkan kendala tersebut sering mengakibatkan proyek tertunda alias molor dari target waktu pelaksanaan program.

Proyek jalan Tol Kendal-Semarang dan Semarang-Demak saat ini sedang proses pembebasan lahan di beberapa lokasi. Padahal proyek tersebut berfungsi sekaligus sebagai tanggul laut.

Artinya, ada multifungsi dari proyek itu, selain sebagai pengurai kemacetan di Kota Semarang, juga mencegah air pasang naik ke permukiman.

Meski begitu, apapun alasannya, warga sebagai pemilik bidang tanah juga mempunyai hak untuk bertransaksi maupun negosiasi terkait pelaksanaan proyek. Dan mayoritas mereka pun mengutamakan kepentingan nasional dibanding kepentingan pribadi.

Sebut saja perumahan Mangkang Indah, tepatnya di RT 09 / RW 02, Kelurahan Wonosari, Ngaliyan Kota Semarang yang berada di pinggirjalur Pantura. Sejumlah warga khawatir rumah yang telah dihuninya bertahun-tahun akan digerus mesin bulldozer. Sebab lokasi tersebut masuk dalam daerah terdampak rencana pembangunan jalan tol Kendal-Semarang.

Seorang warga Richard mengatakan, sejak rencana jalan tol itu (dulu SORR) digulirkan 2010 para warga di kampungnya tidak tenang. Selain itu, muncul juga masalah sosial lain yaitu dua kubu antara yang pro dan kontra dengan rencana pemerintah tersebut.

Bagi yang mendukung, menurut Ricard mereka beranggapan akan menerima ganti untung miliaran rupiah. Sedangkan warga yang menolak, beralasan bahwa kampung Mangkang Indah telah menjadi sejarah hidup sehingga sayang untuk ditinggalkan.

"Diiming-imingi satu miliar. Tapi ada yang mengenang perjuangan agar kampung ini tetap eksis karena mereka sudah tinggal puluhan tahun di sini," kata Richard. Akibatnya terbentuk kedua kubu yang bikin tak nyaman. Bahkan ada yang tak bertegur sapa. "Misalnya ketika ada kegiatan bersama, yang pro langsung pergi ketika ada yang kontra, datang," imbuhnya.

Suasana antarwarga yang tak lagi kondusif terus dirasakan hingga saat ini. Oleh sebab itu ia berharap pemerintah memberikan kejelasan terkait rencana proyek tol itu supaya masalah di perumahannya tidak berlarut-larut. "Apakah mau dilanjut atau dihentikan?" tanya dia.

Ada juga warga yang menyatakan bukan menolak proyek melainkan minta kelonggaran. Yaitu dengan menggeser sedikit rencana desain daerah terdampak agar tidak perlu menghancurkan kampung.

"Alasan menolak sudah ada tol. Selain itu di samping pemukiman ini masih ada lahan kosong luas yang bisa pakai rencana proyek. Kami tidak menolak proyek tetapi menolak ruasnya yang menggerus kampung ini," ujarnya.

Richard sedih karena sejak 25 tahun sudah menghuni rumah itu dan perjuangannya membangun rumah tahap demi tahap akan sia-sia. Ia mengaku sudah sering diajak sosialisasi. Terakhir 2016 kemarin namun tidak ada hasil. Menurutnya pertemuan tersebut penuh kejanggalan.

Terkait adanya penolakan sebagian warga, Kepala DPU Kota Semarang, Iswar Aminuddin, mengatakan detail enginering design (DED), analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal), maupun land acquisition and resettlement action plan (Larap) disusun dan dibuat oleh tim independen. Menurut dia, jika ada pihak-pihak yang keberatan, bisa melakukan gugatan atau jalur hukum yang tersedia. (tim)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved