OPINI : Ketokohan dan Nasionalisme
Gerakan nasionalisme menguat sejak kaum muda mengumumkan Soempah Pemoeda, 1928.
Oleh Bandung Mawardi
Kuncen Bilik Literasi
TRIBUNJATENG.COM -- Gerakan nasionalisme menguat sejak kaum muda mengumumkan Soempah Pemoeda, 1928. Pengaruh menjalar ke kaum muda peranakan Arab. Tokoh bernama A.R. Baswedan turut membesarkan ide dan gerakan nasionalisme di kalangan peranakan Arab dengan mendirikan Partai Arab Indonesia (PAI), 1934.
PAI berasaskan Islam dan pengakuan tanah air Indonesia. Organisasi berhaluan nasionalisme diteguhkan dengan Soempah Pemoeda Indonesia Ketoeroenan Arab, berisi pengakuan bertanah air Indonesia. A.R. Baswedan tampil sebagai penjelas dan penggerak untuk komitmen nasionalisme. Kemunculan PAI berbarengan dengan represi pemerintah kolonial atas gerakan nasionalisme. Baswedan dan PAI tampil tanpa gentar dan ambisius membesarkan nasionalisme bersama kaum nasionalis dan pelbagai parati politik.
Pada 1974, A.R. Baswedan menulis di buku berjudul45 Tahun Sumpah Pemuda. Ia mengenang kemauan membentuk dan memuliakan Indonesia lanjutan dari peristiwa 1928. Di Semarang, 4 Oktober 1934, dicetuskanlah Soempah Pemoeda Indonesia Ketoeroenan Arab dengan pengakuan: tanah air peranakan Arab adalah Indonesia, mereka harus meninggalkan kehidupan isolasi, dan memenuhi segala kewajiban bagi tanah air dan bangsa Indonesia. Peristiwa bersejarah itu berlanjut ke pembentukan PAI berdampak ke persatuan demi Indonesia. Tulisan itu mengingatkan publik agar tak melupakan babak sejarah setelah Soempah Pemoeda. A.R. Baswedan menganggap bahwa “makin lama makin kurang diketahui umum” peristiwa bertahun 1934.
A.R. Baswedan sempat membuat kejutan bagi kalangan Arab totok dan peranakan Arab dengan penampilan diri: mengenakan beskap dan blangkon. Pemuda Arab berpenampilan Jawa menjadi eskpresi ejekan atas politik segregasi oleh kolonial dan “melepaskan kebangsaan Arab”. Foto A.R. Baswedan berbeskap dan berblangkon tampil diMata Hari, 1 Agustus 1934.
Foto menimbulkan kehebohan dan polemik. Baswedan sengaja menebar pesan melalui foto untuk permulaaan gerakan nasionalisme di kalangan peranakan Arab agar mereka tak selalu berorientasi ke negeri jauh: Handramaut. Lahir dan hidup di Indonesia memastikan Baswedan bertanah air Indonesia, bergerak melawan kolonialisme-imperialisme. Seruan melalui PAI menempatkan tokoh-tokoh keturunan Arab bergabung dengan kaum nasionalis demi mencapai Indonesia merdeka.
A.R. Baswedan diMata Hari, 1 September 1934 menulis kehendak membesarkan nasionalisme di Indonesia: “Sebab itoelah, maka kita berpendapatan, bahwa satoe-satoenja djalan sekarang, oentoek mengadakan persatoean diantara kaoem toea, atau lebih tegas lagi, diantara partai Alirsjad dan Arrabitah, hanja dengan mentjiptakan persatoean boeat kaoem peranakannja, atas dasar jang tegas dengan mengingati kewadjibannja terhadap tanah airnja Indonesia.” Kutipan itu sengaja diajukan lagi oleh Maskatie di buku berjudul A.R. Baswedan:Boeah Fikiran dan Andjoerannja(1939).
A.R. Baswesdan (9 September1908-16 Maret 1986) terus berikhtiar memberi kontribusi bagi pembentukan Indonesia melalui pers dan kerja politik. Tulisan-tulisan di pelbagai surat kabar menjelaskan keberpihakan untuk menguatkan nasionalisme. Kerja politik dilakoni dengan menjadi anggota BPUPKI, menjabat Menteri Penerangan Muda di masa Kabinet Sjahrir, dan anggota BP-KNIP. A.R. Baswedan adalah tokoh ganjil untuk orientasi kaum peranakan Arab, meninggalkan urusan dagang untuk beralih ke kerja jurnalistik, politik, dan seni. Baswedan mendapat pelbagai tanggapan miring dari kalangan sendiri tapi bertekad bersuara Indonesia.
Pekerjaan di dunia pers dan politik mempertemukan A.R. Baswedan dengan tokoh-tokh pergerakan kebangsaan. Peran sebagai redakturSit Tit PodanSoeara Oemoemmenjadi ekspresi pertautan dan pembauran bersama dengan pelbagai golongan demi nasionalisme. Surat kabar menjadi medium mengabarkan nasionalisme.
Baswedan tekun menulis dan menebar propaganda dengan artikel dan puisi. Gerak politik kebangsaan masa 1930-an semakin mengartikan Indonesia. Situasi politik berubah dengan kedatangan Jepang, 1942. Baswedan semakin terlibat kerja politik berisiko pemenjaraan dan pengejaran dari pemerintah pendudukan Jepang. Ambisi mewujudkan Indonesia memuncak dengan menjadi anggota BPUPKI. Baswedan memberi seruan di BPUPKI, 15 Juli 1945: “Saja telah memberi penjelasan bahwa tidak ada seorang poen daripada peranakan Arab jang mengingini dan mentjita-tjitakan kerakjatan lain daripada kerakjatan Indonesia.”
Setelah Indonesia merdeka, Baswedan berperan sebagai Menteri Muda Penerangan dan bagian dari tim diplomasi untuk pengakuan kedaulatan Indonesia. Kemampuan bahasa dan siasat berpolitik menuai hasil saatA.R.Baswedan melakukan kunjungan diplomasi bersama Agus Salim, M. Natsir, M. Rasjidi, dan Nazir St. Pamuntjak ke Mesir untuk memenuhi undangan Liga Arab. pengakuan kedaulatan diperoleh dan pesan atas kemerdekaan Indonesia bergaung ke dunia. Kerja politik dan diplomasi menempatkan Baswedan sebagai “bapak bangsa” bersama tokoh-tokoh legendaris.
Pengabdian di jurnalistik dan politik digenapi dengan seni. Sejak masa 1930-an, A.R. Baswedan telah menampilkan ekspresi seni melalui sajian puisi-puisi. Baswedan menggunakan nama pena Ibnu Hani Al-Indonesia saat mempublikasikan puisi-puisi. Pertaruhan di jagat seni semakin menguat pada masa 1960-an. Baswedan bersama kalangan seniman berikhtiar menandingi gerakan PKI melalui seni. Pergaulan dengan seniman-seniman ampuh (Mohammad Diponegoro, Rendra, Emha Ainun Nadjib) menjelaskan otoritas ke berkesenian demi Islam dan Indonesia.
Episode-episode hidup A.R. Baswedan bergelimang makna. Keputusan menggerakkan nasionalisme dan kontribusi bagi pemaknaan Indonesia mengusik pelbagai kalangan untuk mengajukan Baswedan mendapat gelar pahlawan. Sejakmasa kekuasaan Soekarnodan Orde Baru, pemerintah belum pernah mengangkat pahlawan dari kalangan peranakan Arab. Ketokohan A.R. Baswedan dan pengabdian bagi Indonesia telah membuktikan politik pembauran dalam sejarah gerakan kebangsaan. Pengakuan atas jasa-jasa A.R. Baswedansampai ke babak terpenting denganpemberian gelar pahlawan, 8 November 2018.
Syafii Maarif memberi komentar penghormatan bahwaA.R.Baswedan adalah sosok dengan nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, jurnalisme, moral, politik, dan kebudayaan (Suratmin dan Didi Kwartanada,Biografi A.R. Baswedan: Membangun Bangsa dan Merajut Keindonesiaa2014).A.R.Baswedan konsisten bergerak demi kemekaran nasionalisme Indonesia. Pengajuan dan pengangkatan A.R. Baswedan sebagai pahlawan adalah kerja militan dan menguak ironi nalar kepahlawanan di Indonesia. Selama puluhan tahun, pemberian gelar pahlawan sering menimbulkan polemik saat menilik sejarah dan kontribusi para tokoh demi Indonesia. Begitu. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/bandung-mawardi.jpg)