Bigland Buka 52 Pabrik di Seluruh Indonesia, Masyarakat Dipermudah Untuk Service Spring Bed-nya

Bigland juga menargetkan penjualan di tahun 2019 bisa mengalami peningkatan sekitar 20 persen.

Bigland Buka 52 Pabrik di Seluruh Indonesia, Masyarakat Dipermudah Untuk Service Spring Bed-nya
TRIBUN JATENG/DHIAN ADI PUTRANTO
Proses produksi spring bed Bigland yang berlokasi di PT CMCJ Kawasan Industri Terboyo Blok 1-2 Semarang. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Desta Leila Kartika

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sebagai satu di antara produk spring bed yang ada di Semarang, Bigland menyasar kelas menengah ke bawah dan menengah ke atas dengan menyediakan produk standar, premium, serta platinum.

Bigland juga menargetkan penjualan di tahun 2019 bisa mengalami peningkatan sekitar 20 persen.

Membahas produk yang paling banyak diminati di Bigland yaitu spring bed standar, karena per hari bisa memproduksi kurang lebih 400 unit.

Dengan harga jual kisaran Rp 1 jutaan dan selisih penjualan setiap produk sekitar 20 persen.

Baca: BSB Village Targetkan 75 Persen Penjualan Aurora Valley di 2019

Supervisor Marketing Bigland, Ridwan Puspito menyebut, Bigland bisa dikatakan sebagai market leader dan central spring bed di area Jawa Tengah, karena sekitar 40 persen menguasai pasar spring bed di Jateng.

"Layanan purna jual yang diberikan Bigland kepada kosnumen di antaranya seperti garansi 15 tahun, jadi semisal masih dalam waktu tersebut dan terjadi kerusakan masih bisa dilakukan service," tutur Ridwan pada Tribunjateng.com, Senin (19/11/2018).

Keunggulan Bigland dari kompetitor lainnya menurut Ridwan, yaitu service center ada di seluruh Indonesia.

Jadi semisal konsumen membeli spring bed di Semarang lalu ternyata pindah ke luar Kota, selama masih produk Bigland bisa dilakukan service.

Bigland memiliki 52 pabrik di seluruh Indonesia supaya lebih memudahkan konsumen.

"Pelemahan nilai tukar rupiah pasti berpengaruh dengan penjualan produk Bigland, karena beberapa bahan baku mengalami kenaikan harga. Sehingga pasar agak sepi terutama di bulan Oktober sampai November 2018 ini," ujarnya.

Baca: Chord Kunci Gitar dan Lirik Lagu Sampai Jumpa Endank Soekamti

Meski beberapa bahan baku mengalami kenaikan harga seperti kawat dan bahan kimia karena import dari luar negeri, diakui Ridwan pihaknya belum menaikan harga dan tetap bertahan.

Namun selama keadaan ekonomi belum stabil tahun depan mau tidak mau bisa menaikan harga.

"Progres kedepannya kami ingin marketing menyasar langsung ke user atau konsumen dan distributor. Karena ketika masyarakat sudah mengenal produk kami, pasti pasar akan mengikuti," imbuhnya. (*)

Penulis: Desta Leila Kartika
Editor: suharno
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved