Soloraya Civilized Society Gelar Diskusi Pengaruh Sosial Media Terhadap Sosial Politik Indonesia

Sosial media saat ini dimanfaatkan sebagian oknum tak bertanggungjawab untuk menebar informasi hoax.

Soloraya Civilized Society Gelar Diskusi Pengaruh Sosial Media Terhadap Sosial Politik Indonesia
TRIBUN JATENG/AKBAR HARI MUKTI
Blonthank Poer (tengah) saat diskusi di Pasar Gede, Solo, Senin (19/11/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Akbar Hari Mukti

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Sosial media saat ini dimanfaatkan sebagian oknum tak bertanggungjawab untuk menebar informasi hoax.

Apalagi di tahun politik ini, pemanfaatan sosial media sebagai penebar informasi hoax dinilai semakin masif. Hal tersebut harus dilawan.

Hal tersebut menjadi tema diskusi yang digelar Soloraya Civilized Society (Sociso) di kawasan Pasar Gede, Solo, Senin (19/11/2018) malam.

Komunitas ini menggelar diskusi agar masyarakat dapat memilah mana informasi di sosial media yang merupakan hoax dan mana yang benar.

Giri Lumakto, salah satu pemantik dalam diskusi itu memaparkan, masyarakat Indonesia saat ini mulai mengikuti apa yang terjadi di Amerika, 2016 silam.

"Saat itu, 43 persen orang Amerika percaya informasi di Facebook, benar ataupun hoax," papar dia.

Menurutnya masyarakat Indonesia sedang mengikuti trend masyarakat Amerika dua tahun yang lalu tersebut.

"Di Indonesia, ada akun-akun yang sering bikin opini, menggiring opini publik. Kalau itu benar tak masalah.

Kadang itu menjerumus ke menghina salah satu tokoh, atau menjerumus ke hoax. Itu yang harus dilawan," terang dia.

Menurutnya kasus paling kentara adalah kasus Ratna Sarumpaet beberapa waktu yang lalu. Ia dinarasikan dihajar orang di bandara. Padahal sebenarnya hanya melakukan operasi plastik saja.

"Tapi beberapa oknum menarasikan ia dianiaya. Bahkan menyeret beberapa tokoh politik Indonesia. Ketika diketahui hal tersebut hanya hoax, masyarakat sudah resah karena penggiringan opini sudah masif," ujar dia.

Guntur Wahyu Nugroho, Koordinator Sociso menjelaskan, diskusi ini memiliki maksud untuk mengasah rasionalitas publik.

"Kita melihat fenomena sosial media kadang dijadikan penggiringan opini sebagian oknum. Harus berpikir untuk memilah mana informasi hoax atau tidak," ujar dia.

Ia pun mengajak masyarakat terus menggunakan sosial media untuk memberi kontribusi positif terhadap orang lain. (*)

Penulis: akbar hari mukti
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved