Tips Menolong Orang Dalam Kondisi Darurat Menurut Dokter Hakim

Dalam kondisi darurat, dibutuhkan kemampuan dari orang terdekat untuk membantu seseorang yang mengalami gangguan kesehatan.

Tips Menolong Orang Dalam Kondisi Darurat Menurut Dokter Hakim
Tribun Jateng/ Faizal M Affan
Dokter hakim saat mencontohkan menolong orang ketika tenggorokannya kemasukan benda asing, di Hotel Atria Kota Magelang Jumat (23/11/2018) lalu 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Faizal M Affan

TRIBUNJATENG.COM, MAGELANG - Dalam kondisi darurat, dibutuhkan kemampuan dari orang terdekat untuk membantu seseorang yang mengalami gangguan kesehatan.

Dokter dari Public Safety Center Ambulance Hebat Kota Semarang, memberikan pemaparan tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) dalam kondisi gawat darurat.

Dokter Hifni Hakim Prabowo mengatakan, beberapa indikasi yang sangat dibutuhkan pertolongan cepat yakni, tenggelam, stroke, benda asing di saluran nafas, inhalasi asap, epligotitis, overdosis obat, cedera, tersengat listrik, dan koma.

Hal itu disampaikanya dalam acara Media Gathering bersama Dinas Kesehatan Kota Semarang, di Hotel Atria Kota Magelang Jumat (23/11/2018) lalu.

"Di saat seperti itu, penanganan BHD sangat diperlukan untuk meyelamatkan nyawa korban. Tidak hanya tepat, tetapi juga harus cepat. Karena jika ditolong secepatnya, kemungkinan selamatnya tinggi. Tetapi jika sudah lebih dari 10 menit, kemungkinan berhasil hanya 1:100. Namun kembali lagi takdir hanya Tuhan yang tahu," jelasnya.

Resusitasi Jantung Paru-paru (RJP) atau Cardiopulomnary Resuscitattion (Cpr) memilki urutan langkah-langkah yang harus dipatuhi ketika sedang berusaha untuk menolong korban. Yang pertama, Dangerous, maksudnya si penolong, pasien, dan lingkungan dalam kondisi aman.

"Jangan sampai si penolong juga masih dalam kondisi yang sangat berisiko. Sehingga ketika menolong pasien, pastikan lingkungan sekitar aman. Kemudian selain itu ada Respons, Shout, Circulation, Airway, dan Breathing," bebernya.

Ketika sedang menolong korban, Hakim menyarankan terlebih dahulu untuk mengecek denyut nadi dengan memegang bagian leher kanan selama 10 detik.

Ketika masih ada denyut, si penolong harus memberikan nafas buatan namun tanpa RJP. Tetapi jika tidak, maka harus diberi nafas buatan sekaligus RJP.

Halaman
12
Penulis: faisal affan
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved