Liputan Khusus

ODHA di Kota Semarang Peringkat Teratas di Jateng

KOTA Semarang menjadi daerah tertinggi angka penderita HIV/AIDS di Jawa Tengah.

ODHA di Kota Semarang Peringkat Teratas di Jateng
tribunjateng/dok
FOTO DOKUMENTASI- Aksi peringatan hari HIV AIDS sedunia 

TRIBUNJATENG.COM -- KOTA Semarang menjadi daerah tertinggi angka penderita HIV/AIDS di Jawa Tengah.

Data dari Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kota Semarang menyebut secara komulatif sejak 1995 sampai 2018 telah ditemukan sejumlah 5.044 orang.

Sekretaris KPA Kota Semarang, Bambang Soekardjo perkembangan temuan penderita HIV/AIDS di wilayahnya terus meningkat sepanjang tahun. Kondisi ini cukup memprihatinkan, namun di sisi lain merupakan keberhasilan menjawab fenomena gunung es.

"Tertinggi di Jateng tidak masalah, sebab sampai tahun 2022 ini rencana kerja serta instruksi dari kementerian kesehatan memperbanyak temuan. Setelah ketemu semua diharapkan tidak ditemukan dan jumlahnya bisa berkurang," kata Bambang.

Dijelaskannya, jumlah temuan penderita HIV/AIDS di wilayahnya yang mencapai 5.044 orang baru sebagian atau sekitar 40 persen dari estimasi nasional. Kementrian Kesehatan memperkirakan di Kota Semarang terdapat sekitar 13 ribu penderita HIV Aids.

Masih banyak penderita HIV/AIDS di Kota Semarang yang belum terdeteksi atau tidak mendatakan dirinya. Kondisi ini disebabkan karena penyakit HIV Aids memunculkan stigma negatif bagi penderita.

"Penyakit ini menyembuyikan diri karena stigma negatif masyarakat sangat tinggi. Terkucilkan keluarga atau lingkungan sekitar sehingga mereka mencoba mengelabuhi petugas," imbuhnya.

Menurut Bambang, tingginya angka penderita HIV/AIDS di Kota Semarang disebabkan karena daerah tersebut merupakan kota transit. Sebagai ibu kota provinsi, Kota Semarang menjadi daerah di Jawa Tengah dengan tingkat mobilitas tinggi sehingga rawan terjadi penyebaran virus HIV.

KPA Kota Semarang memiliki program STOP untuk mengatasi masalah HIV Aids. Singkatan dari suluh, tes, obati, dan pertahankan.

Dijelaskannya bahwa suluh merupakan kegiatan penyuluhan atau sosialisasi di berbagai tempat karena menurutnya penyakit ini tidak bisa menyerang siapa saja.

"Tes di semua lokasi diharapkan ditemukan agar fenomena gunung es terjawab. Obati sehingga mereka tidak menularkan dan tidak menjadi Aids. Pertahankan terus jangan sampai lose follow up, ODHA harus minum obat seumur hidup, kalau tidak bisa meninggal," ujarnya. (tim)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved