Pentas Wayang Tujuh Hari Tujuh Malam “Bharatayudha” Kembali Digelar

ntuk ketiga kali setelah tahun 2016 dan 2017, pertunjukan wayang kulit selama tujuh malam dengan serial Bharatayudha

Pentas Wayang Tujuh Hari Tujuh Malam “Bharatayudha” Kembali Digelar
Istimewa
Sebanyak tujuh dalang asal Boyolali terlibat dalam pentas setiap lakon dalam pentas wayang kulit yang digelar di Alun Alun Lor Boyolali, dari Minggu (25/11) hingga Sabtu (1/12). 

TRIBUNJATENG.COM, BOYOLALI – Untuk ketiga kali setelah tahun 2016 dan 2017, pertunjukan wayang kulit selama tujuh malam dengan serial Bharatayudha kembali digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali.

Sebanyak tujuh dalang asal Boyolali terlibat dalam pentas setiap lakon dalam pentas wayang kulit yang digelar di Alun Alun Lor Boyolali, dari Minggu (25/11) hingga Sabtu (1/12).

Lakon pertama Kresno Dutho dibawakan Ki Warjito Kliwir asal Ngemplak secara resmi membuka pentas kesenian yang sekaligus untuk memperkenalkan ruang publik terbaru di Kabupaten Boyolali.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Boyolali, Darmanto dalam sambutan laporannya.

“Wayang kulit tujuh malam dengan tujuan nguri-uri budaya dan memberi hiburan kepada masyarakat,” terangnya dalam bahasa Jawa.

Pada hari kedua, Senin (26/11) dalang Ki Haji Joko Sunarno asal Karanggede dengan lakon Bhisma Gugur. Kemudian hari ketiga, Selasa (27/11) menampilkan Ki Raharjo (Purbo Carito) asal Sambi dengan lakon Ranjapan.

Sementara Wakil Bupati (Wabup) Boyolali, M. Said Hidayat berharap gelaran wayang ini menjadikan generasi penerus bisa melestarikan dan nguri uri peninggalan para leluhur.

“Nguri uri Budaya Jawa yang masih bisa dilihat, dinikmati, bisa menjadi contoh generasi yang akan datang, karena membangun tidak hanya fisik saja akan tetapi juga membangun juga untuk nguri uri tradisi yang ada,” ungkap Wabup Said yang dilanjutkan dengan penyerahan tokoh wayang Kresna kepada dalang Warjito.

Adapun untuk hari keempat, Rabu (28/11) dalang Ki Jungkung Darmoyo asal Sawit membawakan lakon Karno Tandhing. Kemudian Ki Joko Sartono dari Musuk membawakan lakon Durna Gugur pada Kamis (29/11).

Untuk pentas keenam, Jumat (30/11) ditampilkan Ki Suratno asal Ngemplak dengan lakon Suluhan. Sementara sebagai lakon penutup pada Minggu (8/10) menampilkan Ki Suryanto asal Karanggede dengan lakon Brubuh. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved