Bea Cukai Siap Bantu Perusahaan untuk Mengurus Sertifikasi AEO

Workshop ini juga diadakan sekaligus sebagai ajang sharing antara pengguna jasa kepabeanan dengan kantor Wilayah DJBC Jateng dan DIY.

Bea Cukai Siap Bantu Perusahaan untuk Mengurus Sertifikasi AEO
Tribun Jateng/ Desta Leila Kartika
Bea Cukai berfoto bersama peserta workshop yang diadakan oleh Kanwil DJBC Jateng dan DIY, berlokasi di aula Kanwil DJBC Jateng dan DIY, jl. Ahmad Yani Semarang.  

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Desta Leila Kartika

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Jateng dan DIY mengadakan workshop tata cara nilai terhadap barang yang akan diimpor sebelum penyerahan pemberitahuan pabean (valuation advice).

Workshop ini bertujuan untuk memberikan sosialisasi kepada pengguna jasa kepabeanan, di lingkungan Kanwil DJBC Jawa Tengah dan Yogyakarta mengenai Reputable Traders.

Maksud dari Reputable Traders yaitu perusahaan-perusahaan yang memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi atas peraturan, dan mendapat status sebagai Mitra Utama (MITA) atau sertifikasi Authorized Economic Operator (AEO).

Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Jateng dan DIY, Parjiya mengatakan, pihaknya berharap perusahaan-perusahaan pengguna jasa kepabeanan berusaha untuk memenuhi standar reputable traders dan bersertifikat MITA atau AEO.

Selain itu, workshop ini juga diadakan sekaligus sebagai ajang sharing antara pengguna jasa kepabeanan dengan kantor Wilayah DJBC Jateng dan DIY.

"Saat ini jumlah perusahaan MITA Kepabeanan ada 301 perusahaan dimana 29 dari jumlah tersebut merangkap status sebagai AEO. Sedangkan jumlah perusahaan AEO yaitu ada 82 perusahaan di antaranya seperti PT. Fukuryo Indonesia, PT. Garudafood Putra Putri Jaya, PT. Solo Murni Epte, PT. Sriboga Flour Mill, dan PT. Indokemika Jayatama," jelas Parjiya, pada Tribunjateng.com, Selasa (4/12/2018).

Dengan adanya sosialisasi ini, Parjiya mengungkapkan bukan masalah berapa jumlah perusahaan yang sudah memiliki sertifikasi AEO, tapi diharapkan jumlahnya akan bertambah terus. Karena sertifikat AEO menjamin pengusaha patuh dan yang menjamin adalah Pemerintah sendiri.

Maka, bagi perusahaan sertifikat AEO ini mempermudah komunikasi bisnis baik dengan partner bisnis yang lama atau baru yang mungkin masih ada keraguan.

"Ketika sudah mendapat sertifikat AEO, otomatis sudah dijamin oleh Pemerintah Indonesia kalau perusahaan yang bersangkutan patuh. Sehingga partner bisnis yang baru bisa menilai sendiri dan mempermudah kedepannya," kata dia.

Parjiya menyebut, terdapat kemudahan lain yang didapatkan seperti untuk internal Bea Cukai yaitu barang dibongkar sudah bisa langsung dibawa keluar pelabuhan. Sedangkan untuk barang yang ekspor bisa juga langsung dimuat ke kapal.

"Di Indonesia parameter untuk mendapat sertifikat AEO ini ada 13 filter, jika dibandingkan negara-negara lain gerakannya untuk bertambah masih lambat. Hal tersebut karena filter setiap negara berbeda-beda ada yang 8 atau 9, sehingga parameter nya lebih mudah didapatkan sedangkan di Indonesia lebih lama dan perusahaan yang sudah memenuhi syarat tidak banyak," ungkapnya.

Menurut Parjiya, masalah sertifikasi AEO bukan hanya menjadi tanggung jawab pengusaha saja, tapi pihaknya juga memiliki kepentingan.

Karena seperti yang sudah disampaikan, keuntungannya sangat luar biasa baik untuk pengusaha dan Bea Cukai sendiri sebagai pengelola AEO.

"Proses sertifikasi AEO ini saya katakan tidak sulit karena kami Bea Cukai memiliki kewajiban untuk memberikan asistensi. Jadi, semisal dari 13 filter ada 5 yang tidak lulus maka jumlah 5 tersebut kami sanggup memberikan asistensi sampai perusahaan lulus," pungkasnya.(*)

Penulis: Desta Leila Kartika
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved