fokus : PMP dan Sejarah Skandal 1MDB

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ingin menghidupkan kembali pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP)

fokus : PMP dan Sejarah Skandal 1MDB
tribunjateng/bram
Galih P Asmoro wartawan Tribun Jateng 

Oleh Galih Pujo Asmoro

Wartawan Tribun Jateng

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ingin menghidupkan kembali pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) di sekolah. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan, rencana penerapan PMP untuk siswa itu sudah final. Saat ini, Kemendikbud akan merumuskan pengkajian itu di sejumlah perguruan tinggi. Diharapkan, PMP bisa diterapkan sebelum 2019.

Nantinya, sekolah yang mendapat pelajaran PMP mulai dari Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Hanya saja, ada perbedaan porsi antara TK, SD dan SMP dibanding SMA.

"Porsinya mungkin akan kami bedakan. Porsi terbesar untuk TK, SD, SMP itu Pancasila penanaman nilai. Untuk SMA, SMK sudah pada level kewarganegaraannya," kata Menteri Pendidikan.

Di sisi lain, negeri tetangga Malaysia juga menyiapkan hal tak mengejutkan terkait pendidikan. Menteri Pendidikan Malaysia, Maszlee Malik mengatakan skandal korupsi di 1Malaysia Development Berhad (1MDB) akan masuk pelajaran sejarah untuk pelajar di seluruh Malaysia. Menurut dia, hal tersebut akan membantu mendidik generasi muda akan bahaya kejahatan korupsi yang dilakukan oleh para pemimpin sebelumnya.

"Saya akan memastikan bahwa 1MDB dan bagaimana beberapa pemimpin merampok negara akan dimasukkan dalam buku-buku sejarah sehingga generasi mendatang tidak akan membuat kesalahan yang sama," katanya.

Membaca berita mengenai skandal 1MDB yang akan masuk ke pelajaran sejarah di Malaysia, saya pun mencoba mengingat-ingat adakah pelajaran sejarah atapun moral di Indonesia yang mengupas mengenai sebuah kasus korupsi secara khusus dan mendalam. Sepertinya, sejauh ingatan saya belum ada pelajaran seperti itu.

Paling-paling, pelajaran seputar korupsi hanya sebagai bumbu pelengkap saja. Misalnya kejatuhan Orde Baru yang berawal dari krisis moneter, perilaku korupsi kolusi dan nepotisme (KKN) penguasa dan kroninya yang kemudian mendorong aksi demonstrasi, kerusuhan dan lain sebagainya. Namun di pelajaran yang diterima, tidak disebutkan secara detil apa, siapa, di mana, kapan, mengapa dan bagaimana bisa terjadi perilaku KKN.

Demikian juga dengan kasus megakorupsi yang menghebohkan belakangan ini. Jika ingin mengetahuinya secara detil, pelajar harus mandiri mencari tahu. Padahal, bagi sebagian pelajar, main game online adalah hal yang lebih menarik dibanding dengan mengikuti berita mengenai korupsi yang dilakukan pejabat. Oleh karena itu, meniru seperti apa yang akan dilakukan Malaysia sepertinya akan menjadi hal menarik. 

Korupsi, di Indonesia bukanlah "barang baru". Jauh sebelum bangsa ini berdiri, kala masih berujud kerajaan, diyakini perilaku koruptif sudah terjadi. Bahkan bisa jadi, korupsi sudah jadi budaya bangsa ini. Mengucapkan terimakasih dengan "salam tempel" misalnya. Hal itu sudah lazim dilakukan oleh sebagian besar besar.

Kembali pada PMP dan pelajaran sejarah di Malaysia, alangkah indahnya jika dua ide dijadikan satu. Pada pelajaran PMP, sejarah atau pelajaran apapun di Indonesia, bukan berniat mempermalukan, ada pembelajaran detil mengenai kasus skandal korupsi yang diberikan pada seluruh pelajar. Kalaupun tidak pada seluruh pelajar, hal itu bisa diberikan berbeda-beda tiap daerah.

Misalnya di Jateng, siswa di sekolah mendapat pelajaran mengenai korupsi yang dilakukan oleh seorang bupati ataupun anggota dewan dan penyelenggara negara lainnya. Demikian juga dengan Jambi, Bekasi, Sumatera Utara, Riau, dan lain sebagainya. Sekali lagi bukan bermaksud untuk mempermalukan, namun untuk mengingatkan jika siapapun yang berani merampok uang rakyat, cerita itu akan dibagikan ke setiap warganya agar hal itu tidak ditiru generasi selanjutnya di kemudian hari. (*)

Penulis: galih pujo asmoro
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved