BI Prediksi Ekonomi Jateng pada 2019 Tumbuh 5,3-5,7 Persen

Bank Indonesia (BI) Jateng memprediksi kondisi perekonomian di provinsi ini pada 2019 akan tumbuh lebih tinggi di rentang 5,3-5,7 persen

BI Prediksi Ekonomi Jateng pada 2019 Tumbuh 5,3-5,7 Persen
Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Warga menujukkan uang NKRI pecahan baru sesuai antre penukaran di mobile konter Bank Indonesia di Blok M, Jakarta Selatan, Senin (19/12/2016). Bank Indonesia (BI) hari ini meluncurkan 11 uang rupiah Emisi 2016 dengan gambar pahlawan baru. Peluncuran uang rupiah baru ini dilakukan langsung oleh Presiden RI Joko Widodo. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Bank Indonesia (BI) Jateng memprediksi kondisi perekonomian di provinsi ini pada 2019 akan tumbuh lebih tinggi di rentang 5,3-5,7 persen, dengan inflasi yang terjaga pada kisaran 3,5±1 persen.

Kepala Kantor Perwakilan BI Jateng, Hamid Ponco Wibowo mengatakan, percepatan pertumbuhan ekonomi di provinsi ini satu di antaranya dipengaruhi konsumsi dan investasi yang tetap kuat pada tahun mendatang.

"Kami yakin asumsi pertumbuhan ekonomi di tahun depan bisa mencapai 5,3-5,7 persen," katanya, dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Nasional 2018, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jateng, di Hotel Gumaya Semarang, Rabu (5/12).

Menurut dia, prospek ekonomi Indonesia termasuk Jateng ke depan akan lebih baik dan semakin baik lagi dalam jangka menengah-panjang.

"BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 akan meningkat mencapai kisaran 5,0-5,4 persen," ucapnya.

Sementara itu, Hamid menuturkan, inflasi nasional pada 2019 akan tetap terkendali pada kisaran sasaran 3,5±1 persen, seiring dengan terjaganya tekanan harga dari sisi permintaan, volatile foods, administered prices, ekspektasi inflasi, serta stabilnya nilai tukar rupiah.

Selain itu, dia menambahkan, pertumbuhan kredit pada 2019 diperkirakan mencapai 10-12 persen, dan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan dalam kisaran 8-10 persen.

Kebijakan

Defisit transaksi berjalan pada 2019 diperkirakan turun menjadi sekitar 2,5 persen dari produk domestik bruto (PDB), dengan langkah-langkah kebijakan pengendalian impor serta peningkatan ekspor dan pariwisata.

"Dalam jangka menengah, percepatan pembangunan infrastruktur dan serangkaian kebijakan deregulasi akan meningkatkan produktivitas perekonomian, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi," ungkapnya.

Meski mendapat tekanan eksternal, Hamid menyatakan, depresiasi nilai tukar rupiah relatif terjaga sepanjang 2018, bahkan beberapa waktu terakhir cenderung menguat. Data per 4 Desember 2018 nilai tukar rupiah tercatat sebesar Rp 14.293/dollar AS.

"Pada 2019 kami perkirakan rupiah akan bergerak stabil sesuai dengan mekanisme pasar. Stabilitas rupiah ditopang pula penurunan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih aman," tandasnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng mencatat ekonomi Jateng kuartal III/2018 mengalami pertumbuhan 5,25 persen dibandingkan dengan periode sama tahun lalu.

"Struktur ekonomi Jateng kuartal III/2018 dari sisi produksi masih tetap didominasi lapangan usaha industri pengolahan dengan kontribusi sebesar 33,9 persen," jelas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng, Sentot Bangun.

Secara kumulatif, dia menambahkan, ekonomi Jateng hingga kuartal III/2018 tumbuh 5,38 persen. Meski demikian, menurut dia, pertumbuhan ekonomi Jateng sepanjang 9 bulan tahun ini tertahan impor barang dan jasa yang tercatat tumbuh cukup tinggi.(*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved