Ngopi Pagi

FOKUS : Gebrakan Satpol PP Solo

MEMASUKI musim hujan, gebrakan dibuat oleh Pemkot Solo. Rabu (5/12), untuk pertama kalinya Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Solo

FOKUS : Gebrakan Satpol PP Solo
tribunjateng/bram
Muslimah wartawan tribunjateng.com 

Oleh Muslimah

Wartawan Tribun Jateng

MEMASUKI musim hujan, gebrakan dibuat oleh Pemkot Solo. Rabu (5/12), untuk pertama kalinya Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Solo menyeret sembilan pelaku pembuang sampah ke meja hijau atau pengadilan. Mereka dikenai hukuman tindak pidana ringan (tipiring).

Sekretaris Satpol PP Solo, Arif Darmawan, mengatakan, langkah tegas itu untuk menimbulkan efek jera bagi para pelaku, sekaligus memberikan pembelajaran kepada masyarakat. Sebab tahun lalu, pelaku pembuang sampah di Solo hanya diperiksa lalu membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatan mereka. Ternyata itu tidak cukup ampuh karena kejadian serupa terulang lagi.

Sembilan pelaku tersebut tetangkap basah membuang sampah ke sungai. Merujuk Perda Nomor 3/2010 tentang Pengelolaan Sampah, pelanggar larangan membuang sampah di sungai bakal disanksi pidana maksimal tiga bulan kurungan dan atau denda maksimal Rp 50 juta.

Sepertinya sepele, namun membuang sampah pada tempatnya masih sangat sulit dilakukan oleh sebagian besar masyarakat. Seringkali sebagai misal, kita menjumpai orang yang tanpa rasa bersalah membuang pastik bekas makanan sambil berkendara.

Atau ada juga yang dengan santainya meninggalkan sampah bekas bungkus makanan di tempat yang tidak seharusnya.

Yang paling parah tentu saja membuang sampah ke saluran air yang meyebabkan penyumbatan. Saat hujan datang, air tidak bisa mengalir lancar hingga mengakibatkan banjir.

Di sejumlah kota besar termasuk Semarang, sampah memperparah banjir. Materialnya terbawa air sehingga selain menimbulkan bau tidak sedap juga menyebarkan wabah penyakit sekaligus merusak lingkungan.

Tentunya masih ingat kan, peristiwa fenomenal November lalu. Seekor paus paus jenis Sperm wale yang terdampar di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra), meregang nyawa dan di dalam perutnya ada sekitar 5,9 kg sampah plastik! Memang pihak berwenang belum memastikan penyebab kematiannya. Namun sangat mungkin itu karena plastik yang tidak terurai di perut dan beracun hingga menyebabkan pencernaan terganggu hingga paus itu menemui ajal.

Lalu di kepulauan Seribu ditemukan bangkai penyu yang mati karena memakan plastik. Konon mereka mengira plastik yang mengapung di air sebagai plankton. Indonesia sudah darurat sampah (pastik) dan negara ini disebut sebagai penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah China.

Gebrakan yang dibuat Satpol PP Solo yang tegas menindak pelaku pembuang sampah sembarangan layak diapresiasi demi menjaga kesinambungan alam. Namun tentu saja kita berharap itu bukan hanya gebrakan sesaat yang hanya panas di awal namun setelah itu tidak ada kabar beritanya. Gebrakan tersebut juga mesti diimbangi kinerja baik pemerintah dalam mengelola sampah.

Yang paling sederhana sampah warga harus dipastikan terangkut secara rutin hingga mereka tidak keburu membuangnya ke sungai atau tempat yang tidak semestinya karena sudah terlalu menumpuk dan bau. (Muslimah)

Penulis: muslimah
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved