FOKUS : Kesiagaan Bencana

MUSIM hujan telah tiba. Kesiapsiagaan terhadap bencana ditingkatkan. Begitu pula Kota Semarang yang tak luput dari terjangan musibah

FOKUS : Kesiagaan Bencana
tribunjateng/bram
Moh Anhar wartawan Tribun Jateng ok 

Oleh Moh Anhar

Wartawan Tribun Jateng

MUSIM hujan telah tiba. Kesiapsiagaan terhadap bencana ditingkatkan. Begitu pula Kota Semarang yang tak luput dari terjangan musibah yang tak bisa diketahui kapan datangnya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang memetakan tingkat kerawanan daerah terhadap bencana longsor, kebakaran, angin puting beliung, banjir, dan kekeringan di wilayah cakupannya.

Dari jenis bencana ini, seringkali peristiwa terjadi saat musim hujan. Diharapkan adanya pemetaan kerawanan bencana ini bisa bermanfaat untuk kewaspadaan bagi siapa saja.

Dampak hujan deras Senin (3/12), di beberapa titik, masih terlihat genangan air hingga kemarin. Seperti yang terlihat di enam kelurahan di Kecamatan Genuk, yakni Kelurahan Trimulyo, Terboyo Wetan, Genuksari, Gebangsari, Muktiharjo Lor dan Banjardowo.

Kondisi ini tentu saja memprihatinkan. Genangan air hingga berhari-hari tanpa surut mengakibatkan aktivitas masyarakat terganggu, memperlemah ekonomi, bahkan juga menggerogoti kesehatan fisik warga.

Ibukota Jawa Tengah ini belum benar-benar terbebas dari banjir. Pusat kota di Simpanglima serta jalan-jalan utama masih terlihat genangan air. Di beberapa titik langganan banjir, seperti Kaligawe dan Bubakan, bahkan membahayakan pengguna kendaraan.

Genangan air yang cukup dalam membuat mesin kendaraan mereka mati karena knalpot turut terendam.

Terjadinya bencana, misal banjir atau longsor, memang butuh evaluasi, yang bertujuan di masa mendatang bisa dilakukan upaya pencegahan, bukan sengaja saling salah-menyalahkan.

Fenomena sosial yang kini terjadi terkait kesiagaan bencana ini adalah akses informasi yang makin cepat. Betapa teknologi komunikasi saat ini sangat memudahkan untuk menyebarkan informasi bencana terkini. Genangan banjir, pohon tumbang, angin kencang, longsor dan sebagainya bisa segera tersebar melalui grup Whatsapp dan media sosial. Orang-orang saling berinteraksi, menginformasikan segala hal yang terjadi di lingkungan sekitarnya, termasuk kondisi aman.

Karenanya siapa saja kini bisa menjadi informan atau pihak yang memberikan informasi kepada pihak lainnya. Nah, agar data informasi ini akurat maka diperlukan keterangan yang mendukung. Seperti halnya kaidah jurnalistik, netizen yang menjadi informan ini bisa memaparkan bencana yang mencakup unsur 5W + 1H: What, Who, When, Why, dan How.

Keberadaan rekaman video yang makin banyak digunakan melalui smartphone juga semakin memperkuat informasi tersebut.
Melalui data akurat, informasi layak disebarluaskan ke khalayak lebih ramai. Jangan sampai yang disebarkan justru hoaks alias tidak bisa dipertanggungjawabkan. Selanjutnya, informasi tersebut juga berguna untuk tindakan penanganan lebih lanjut oleh petugas, instansi terkait ataupun elemen masyarakat yang memiliki kepedulian. (*)

Penulis: moh anhar
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved