Radit Ingin ODHA Tetap Berkarya Dengan Segala Kekurangannya

Seminar yang diisi oleh beberapa narasumber ini bertujuan untuk memotivasi ODHA supaya bisa mandiri membangun sebuah wirausaha.

Radit Ingin ODHA Tetap Berkarya Dengan Segala Kekurangannya
Tribun Jateng/ Faizal M Affan
Puluhan ODHA berfoto bersama usai mengikuti seminar tentang kewirausahaan bersama Dinas Sosial Kota Semarang.  

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Faizal M Affan

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sekitar 60 ODHA (Orang Dengan HIV Aids) mengikuti kegiatan seminar tentang Membangun Kemandirian ODHA Melalui Kewirausahaan di Aula Gedung Juang lantai 2, Jalan Pemuda no 163, Semarang, Jumat (7/12/2018) siang, yang diselenggarakan oleh Dinas Sosial Kota Semarang.

Seminar yang diisi oleh beberapa narasumber ini bertujuan untuk memotivasi ODHA supaya bisa mandiri membangun sebuah wirausaha.

Slamet, PIC acara seminar ini, mengatakan peserta tak hanya datang dari Kota Semarang, namun juga ada dari Kabupaten Demak. Ada tiga pemateri yang berasal dari KPA Kota Semarang, LPSSEK Kota Semarang, dan CEO Laxita Kayana Group.

"Ada tiga penjabaran materi yang disampaikan masing-masing narasumber. Yakni Ansis dan program kerja KPA untuk kemandirian ODHA, Membangun Kemandirian ODHA Melalui Usaha Bersama, dan Kewirausahaan serta CSR," ucapnya.

Seminar yang berlangsung hingga pukul 15.00 WIB ini, juga tak hanya dihadiri oleh ODHA. Tapi juga beberapa perwakilan dari Dinas Kesehatan Kota Semarang, Disnakertrans Kota Semarang, Dinkop dan UMKM Kota Semarang, BLK Kota Semarang, APINDO, dan HIPMI.

"Mereka kami undang supaya nanti setelah seminar ini usai ada tindak lanjut untuk teman-teman ODHA, supaya mereka bisa lebih mudah membuat suatu bentuk wirausaha yang nantinya tentu untuk menunjang kesejahteraan mereka. Jika kali ini hanya seminar, tahun depan kami berencana adakan pelatihan untuk mereka," tutur Slamet.

Ketika seminar sedang berlangsung, CEO Laxita Kayana Group, Guntur Raditya Wardhana, mengatakan dihadapan para ODHA untuk tidak melabeli diri mereka sebagai ODHA. Sebab menurut Radit panggilannya, orang sehat dan ODHA tidak ada bedanya.

"Mereka sama dengan kita. Hanya bedanya mereka rutin minum obat setiap hari, sedangkan kita tidak. Sehingga jangan karena terjangkit virus HIV, lalu akhirnya tidak produktif. Pikiran, hati, dan fisik harus tetap jalan karena roda kehidupan tetap berputar," jelasnya.

Sembari memotivasi pada ODHA, Radit juga memberi contoh seorang karyawan di perusahaanya yang juga pengidap Aids. Radit tidak pernah memberikan perlakukan spesial kepadanya. Beban kerjanya sama dengan karyawan lain yang bukan ODHA.

"Kami tahu dia ODHA, tapi dia tidak pernah membicarakan ke orang-orang jika dia ODHA. Karena ia tahu, tak semua orang bisa menerimanya. Tapi justru ia termasuk karyawan yang berprestasi di perusahaan saya.

Itu bukti, bahwa ODHA juga tetap bisa produktif dan beprestasi dalam bidang pekerjaan apapun," beber Radit.

Yang paling diinginkan oleh Radit yakni teman-teman ODHA bisa merubah mainset mereka supaya mau lebih baik lagi. Bukan hanya dari gaya hidup yang sehat, namun juga mau untuk terus mencari peluang bisnis yang sesuai dengan minat masing-masing.

"Teman-teman tidak perlu saling membedakan diri. Saya dan kalian sama saja. Justru jika teman-teman bisa lebih hebat dari orang sehat, itu jadi pembuktian jika kekurangan bukanlah hambatan untuk berkarya.

Berkacalah pada orang-orang hebat yang terlahir dengan fisik yang tidak sempurna. Tuhan menciptakan manusia pasti ada kekurangan dan kelebihannya," pungkasnya.(afn)

Penulis: faisal affan
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved