Ganjar Sambut Baik Langkah BRT Trans Semarang Yang Beralih ke Bahan Bakar Gas

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menyambut baik Program Converter Gas BRT Trans Semarang yang berlangsung di Hotel Patra Semarang

Ganjar Sambut Baik Langkah BRT Trans Semarang Yang Beralih ke Bahan Bakar Gas
Tribunjateng.com/Hermawan Handaka
Pemerintah Kota Semarang bekerjasama dengan Pemkot Toyama, Jepang, melaunching converter gas pada Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang, Rabu (9/1/2019) di Patra Hotel, Semarang, Jawa Tengah. Sebanyak 72 armada BRT Trans Semarang di Kota Semarang mengalami konversi bahan bakar, yaitu dari solar menjadi gas. (Tribun Jateng/Hermawan Handaka) 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Faizal M Affan

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menyambut baik  Program Converter Gas BRT Trans Semarang yang berlangsung di Hotel Patra Semarang, Rabu (9/1/2018) pagi, 

Ia menambahkan, program ini bisa menekan emisi gas karbon yang ada di bumi. Sebab, kendaraan yang ada di Indonesia maupun Kota Semarang masih di dominasi bahan bakar minyak.

"Saya rasa dibandingkan bahan bakar minyak, bahan bakar gas bisa lebih ramah lingkungan. Sebab, asap atau gas buangnya tidak spekat jika menggunakan bahan bakar minyak," ucapnya ketika meninjau bis BRT Trans Semarang di halaman hotel.

Selain bahan bakar yang digunakan, Ganjar juga ingin kenyamanan dan pelayanan BRT Trans Semarang selalu ditingkatkan. Sebab, hal tersebut bisa menjadi modal untuk menarik konsumen.

"Jika fasilitas sudah sangat memadai dan nyaman, tentu otomatis konsumen akan betah dan suka menggunakan transportasi umum, seperti bis BRT Trans Semarang ini," imbuhnya.

Ganjar mengaku pernah mengunjungi sebuah kota di Jepang. Menurutnya, penerapan alat transportasi bertenaga listrik sudah sangat masif di sana. Ia ingin Kota Semarang dan Jateng bisa menirunya.

"Jangan hanya mandek di penggunaan bahan bakar gas saja. Tetapi langkah selanjutnya harus beralih ke tenaga listrik. Tentu menunggu sarana dan prasarananya ada terlebih dahulu, untuk menunjang program tersebut," terangnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Budi Setiyadi, mengatakan kemacetan di sebuah kota bisa menimbulkan kerugian. Baik secara materi maupun waktu.

"Belum lama kami berserta jajaran melakukan rapat terbatas dengan pak Presiden Jokowi. Beliau mengatakan kemacetan di Jabodetabek bisa menghasilkan kerugian hingga triliunan rupiah setiap tahun. Tentu kami akan membuat solusi kongkrit untuk menyelesaikan masalah ini," bebernya di atas panggung.

Sampai saat ini, Dirjen Perhubungan Darat sedang menyusun kajian manajemen lalu lintas darat. Supaya kerugian yang begitu banyak tidak terus terjadi selama bertahun-tahun.

"Dari data yang pernah saya baca, 1.000 orang Indonesia memiliki 800 kendaraan pribadi. Sisanya atau 200 orang adalah pengguna kendaraan umum. Bahkan ada satu orang bisa memiliki dua atau tiga kendaraan. Ini dilema karena belum ada kebijakan pembatasan memiliki kendaraan," tegasnya.

Budi menilai Kota Semarang memiliki komitmen dalam menjalankan transportasi umum BRT. Dari sisi operasional, manajemen, dan pelayanan sudah sangat optimal.

"Kota Semarang patut menjadi contoh bagi kota atau kabupaten lain yang masih kurang optimal dalam menjalankan transportasi umum BRT. Bagi kota/kabupaten yang tidak segera memperbaiki diri, tentu armada akan kami alihkan ke kota/kabupaten lainnya," paparnya.(*)

Penulis: faisal affan
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved