Bakmie Jawa - Dahulu Sekadar Makanan Kampung Kini Naik Kelas, Begini Penjelasannya

Jongkie Tio menyebutkan lebih dari 75 persen kuliner nusantara terpengaruh masakan China termasuk bakmie Jawa.

Bakmie Jawa - Dahulu Sekadar Makanan Kampung Kini Naik Kelas, Begini Penjelasannya
TRIBUN JATENG/M NAFIUL HARIS
Sejarawan Semarang Jongkie Tio (78) memamerkan bakmie jawa hasil olahannya sesuai resep dan bentuk terdahulu tahun 1991 di Restoran Semarang International Family & Garden miliknya di Jalan Gajah Mada, Kota Semarang Kamis (10/1/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Nafiul Haris

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Usianya lebih dari setengah abad. Namun, siapa pun yang tertarik menyelisik lebih jauh budaya Kota Semarang, khususnya terkait Tionghoa peranakan, sebaiknya menemui Jongkie Tio (78) alias Daddy Budiarto.

Selama ini, Jongkie Tio menolak disebut sejarawan dan memilih menjadi pendongeng.Predikat itu melekat hingga sekarang, termasuk manakala Tribunjateng.com menemuinya di Restoran Semarang International Family & Garden miliknya di Jalan Gajah Mada, Kota Semarang Kamis (10/1/2019).

Dia menyebutkan lebih dari 75 persen kuliner nusantara terpengaruh masakan China termasuk bakmie Jawa yang mudah didapatkan manakala berkunjung ke Kota Semarang selain lunpia, dan wedang ronde.

"Jadi makanan yang berlabel mie itu pasti pengaruh Tionghoa. Hasil akulturasi budaya mau itu bihun jawa dan cap cay," terangnya.

Bermula dari Hobi, Kini Bumerang Buatan Haryo Banyak Dicari Pembeli dari Luar Negeri

Menurut Jongkie Tio, kuliner bakmie jawa mulai populer hingga bertahan sampai sekarang dimulai pada tahun 1991. Dahulu lanjutnya, bakmie jawa sudah pernah ada hanya saja terbatas di perkampungan Kota Semarang.

"Tepatnya ketika saya bersama Amin Budiman menggelar pameran makanan kampung selama tiga hari di Semarang," ujarnya.

Dikatakan Jongkie Tio, Amin Budiman dinilai lebih banyak berperan dalam memopulerkan bakmi jawa kala itu. Pasalnya, dibanding dirinya Amin melakukan penelitian kuliner di kampung-kampung Kota Semarang.

Ia menambahkan, dahulu masakan kampung dianggap kurang memiliki nilai strata yang lebih tinggi terutama bagi kalangan orang kaya dan berpengaruh ketika itu enggan mencoba.

"Maka Walikota Semarang ketika itu Soetrisno Suharto mencanangkan adanya wisata kuliner khas Semarang. Sejak itu barulah hotel-hotel mengadaptasi makanan kampung sampai sekarang," sebutnya

Halaman
123
Penulis: M Nafiul Haris
Editor: suharno
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved